Dirut BTPN Selamat dari Serangan Bom di Boston Amerika Serikat
Tiga bom mengguncang Kota Boston, Massachusetts, Amerika Serikat (AS) Senin (15/4/2013) siang atau Selasa (16/4/2013) dini hari.
Ledakan ketiga terjadi di perpustakaan John F Kennedy yang letaknya 5 km dari garis finish Boston Marathon. Tidak ada korban luka akibat ledakan di perpustakaan John F Kennedy tersebut. Namun dua ledakan di dekat garis finis tersebut mengakibatkan tiga korban tewas dan 141 orang terluka. Bahkan, belasan orang harus diamputasi kakinya akibat ledakan mengerikan ini.
Dua Warga Negara Indonesia (WNI) yang ikut lomba tersebut selamat. Mereka adalah Dirut Bank Tabungan Pensiunan Nasional (BTPN) Jerry Ng yang sengaja datang untuk ikut lomba tersebut dan Wati Hlusak yang tinggal di Minnesotta, AS.
Namun tragis bagi Martin Richard (8). Saat kejadian, bocah itu tengah menyaksikan sang ayah, Bill Richard yang mengikuti lomba lari maraton tertua di dunia itu. Tubuhnya terlempar ke atas lalu terhempas dan tewas dengan kondisi mengenaskan.
Pihak keamanan setempat langsung mengamankan pria muda berkewarganegaraan Arab Saudi. karena bertindak mencurigakan. FBI juga mencari pria berkulit gelap yang memakai pakaian serba hitam dan membawa tas hitam dicurigai sebelum ledakan di garis finis terjadi. Berdasarkan kesaksian dan rekaman CCTV, pria tersebut dicurigai karena masuk ke area terlarang serta memiliki aksen asing.
Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) Ban Ki Moon menyebut peristiwa ini sebagai kekerasan tak berperasaan Sementara itu, Presiden Amerika Serikat Barack Obama berjanji akan menemukan pelakunya. "Kami akan mencari tahu siapa yang melakukan ini dan kami akan membuat mereka bertanggung jawab," tegas Obama dalam keterangan pers di Gedung Putih.
Presiden Amerika Serikat, Obama telah menghubungi Direktur FBI, Gubernur Massachusetts, Wali Kota Boston, dan kepolisian Boston untuk menangani peristiwa ini.
Garis Finis
Ledakan pertama terjadi sekitar pukul 14.50 waktu setempat di sisi utara dari Boylston Street. Ketika ledakan terjadi, puluhan pelari hampir sampai di garis finis dan ribuan pelari lainnya sudah melewati garis finis.
Ketika itu pelari bernomor punggung 19.793 sejengkal lagi melewati garis finish. Namun saat itu juga, terdengar ledakan keras dan bola api menyambar puluhan pelari dan ratusan pelari dan penonton di dekat garis finis.
Puluhan pelari langsung terkapar di jalanan. Teriakan para penonton yang menyemangati para pelari pun berubah menjadi teriakan histeris kepanikan. Produser Boston.com, Steve Silva menjadi saksi mata kejadian mengerikan tersebut.
Steve Silva berada di posisi di garis finis untuk mengabadikan kegembiraan pelari yang mencapai finis. Namun ia tak menyangka, momen yang spesial ini berubah menjadi drama kengerian. Beruntung ia selamat.
Silva menceriterakan, ledakan terjadi begitu cepat di tengah-tengah kerumunan penonton. "Aku melihat bagian tubuh manusia, juga darah di mana-mana," kata Silva yang mengaku terus menyalakan kamera saat bom meledak.
Semua orang berlari tanpa arah untuk menyelamatkan diri. Namun keadaan semakin tak terkendali ketika ledakan kedua terjadi yang hanya berselang 12 detik. Seorang polisi asal Rhode Island mengatakan, bom meledak saat sebagian pelari sudah sampai di finis dan sebagian lagi hampir mencapai finis.
"Para pelari baru saja mencapai finis dan kini mereka tidak punya kaki. Ada darah di mana-mana. Saya melihat tulang, potongan tubuh. Seperti medan perang," ujarnya.
Salah seorang peserta lari yang selamat menceriterakan hal serupa. Beberapa saat sebelum ledakan terjadi, sekitar 17.584 pelari dari total 23.326 pelari yang mengikuti Boston Marathon, sudah melewati garis finis.
Joe Anderson (33), seorang nelayan dari Pembroke, Massachusetts, yang berhasil melewati garis finis sembari membentangkan bendera AS mengaku melihat banyak orang kehilangan kaki. "Saya melihat orang-orang yang kehilangan kakinya akibat ledakan tersebut. Ada banyak darah di bagian kaki mereka. Kemudian ada orang-orang yang didorong dengan kursi roda," tutur Joe.
Peserta lari lainnya Roupen Bastajian (35)mengatakan, para pelari yang sudah sampai finish banyak menjadi korban. "Para pelari baru mencapai finish dan mereka kini tidak punya kaki," ucap Roupen Bastajian (35). Bastajian melihat banyak orang yang kehilangan kaki di sekitar lokasi ledakan. "Ada banyak orang tanpa kaki. Darah di mana-mana," imbuhnya.
"Kami menggunakan turniket (semacam pembalut luka untuk menghentikan pendarahan). Saya mengikat sedikitnya lima hingga enam potongan kaki dengan turniket," terang pria yang juga mantan Marinir AS ini.
Keterangan serupa juga disampaikan Deirdre Hatfield yang berdiri hanya beberapa langkah dari garis finis ketika ledakan terjadi. Wanita berusia 27 tahun ini mengaku, melihat beberapa tubuh manusia terlempar hingga ke jalanan. Ia juga melihat sejumlah anak-anak yang tergeletak tak berdaya. Stephanie Douglas, melihat manusia beterbangan ke udara, ketika bom meledak di dekat garis finis.
"Ledakannya begitu kuat, bar penuh dengan asap dan kursi terbalik. Saya melihat orang-orang, seperti mereka dilontarkan menggunakan trampolin ke udara," ujarnya.
Dentuman Keras
Bruce Mendelsohn (44) mengaku tengah berada di dalam kantornya yang tepat berada di atas garis finis ketika ledakan terjadi. Mendelsohn yang merupakan veteran tentara AS ini langsung berlari keluar gedung dan disambut ceceran darah di mana-mana.
"Ada ceceran darah di jalanan maupun di trotoar," ucapnya. Ditambahkannya, banyak orang yang mengalami luka-luka di bagian perut ke bawah.
Jim Bardin yang bekerja di sebuah gedung perkantoran antara dua lokasi ledakan menyatakan saat ledakan terdengar, ruangan tempatnya bekerja sampai terguncang. "Saat hendak pergi untuk melihat apa yang terjadi, ledakan kedua terdengar," kata Jim Bardin. Ia melihat suasana sangat kacau di halaman kantornya. "Orang-orang berlarian karena panik," katanya.
Saksi lainnya, Will Ritter, yang berada beberapa blok dari lokasi di dekat Copley Square, sedang menyiapkan ruangan untuk konferensi pers bagi seorang pelari yang baru saja menyelesaikan lomba. Namun, aktivitasnya terhenti setelah mendengar ledakan. "Seperti bunyi ledakan kembang api, lalu asap putih mengepul," katanya.
Ambulans, mobil pemadam kebakaran serta puluhan mobil polisi langsung memenuhi lokasi. Orang-orang yang berhasil selamat dari ledakan hanya bisa menangis dan saling berpelukan. "Suaranya seperti dentuman sonik. Saya bahkan tidak bisa berhenti gemetar," ucap Melissa Stanley, yang menyaksikan putrinya melintasi garis finish sekitar 4 menit sebelum ledakan.
Ledakan ketiga dilaporkan terjadi beberapa saat kemudian di perpustakaan John F Kennedy yang letaknya 5 km dari garis akhir Boston Marathon. Tidak ada korban luka akibat ledakan di perpustakaan John F Kennedy tersebut.
Bocah 8 Tahun
Ledakan tersebut mengakibatkan bocah berusia delapan tahun yakni Martin Richard tewas ditempat. Beberapa saat sebelum ledakan terjadi, Martin berdiri di samping ibu dan saudara perempuannya. Mereka sedang menunggu sang ayah, Bill Richard mecapai garis finis.
Nahas, saat ledakan terjadi, Martin masih berada di lokasi yang sama. Tubuh Martin terlempar ke atas dan jatuh terhempas hingga tewas dengan kondisi mengenaskan. Sedangkan sang ibu dan seorang saudara perempuan Martin mengalami luka parah akibat ledakan tersebut. Sementara saudara perempuan Martin yang lainnya dilaporkan tidak mengalami luka-luka karena berada agak menjauh dari lokasi kejadian.
Martin dan keluarganya merupakan warga asli Boston. Mereka tinggal di wilayah Dorchester yang merupakan lingkungan bersejarah yang terkenal di Boston. Ayah Martin, Bill dikenal sebagai pemimpin komunitas warga di wilayah Ashmont Dorchester.
Untuk mengenang Martin, warga setempat di Dorchester berkumpul di Tavolo Restaurant pada Senin (15/4/2013) malam waktu setempat untuk mendoakan Martin dan para korban lainnya.
Dua anak Liz Norden harus kehilangan kakinya akibat ledakan tersebut. Kedua anak Liz Norden ketika itu sedang menonton lomba lari. Namun kini kaki dua anaknya harus diamputasi dari lutut hingga telapak. Satu dibawa ke Beth Israel Deaconess, lainnya di Rumah Sakit Brigham and Women. "Saya tak pernah membayangkan di mimpi saya ini akan terjadi," ujar Norden. (tribunnews/sam/reuters/cnn/news.com.au)