TRIBUN CORNER

Selamat Pagi Indonesia, Sebaiknya Kita Jangan Memaksa Jokowi

Janji-janji politik semakin banyak yang justru terlihat seperti tong kosong, pencitraan sudah usai karena rakyat sudah bosan dibohongi.

Selamat Pagi Indonesia, Sebaiknya Kita Jangan Memaksa Jokowi
TRIBUNNEWS.COM/DANY PERMANA
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono didampingi Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (kiri) saat mengikuti Salat Idul Adha di Masjid Istiqlal, Jakarta, Jumat (26/10/2012) lalu.
Joko Widodo yang kini menjabat Gubernur DKI Jakarta tidak henti-hentinya menjadi buah bibir di Republik Indonesia. Di tengah krisis kepemimpinan untuk Presiden pengganti Susilo Bambang Yudhoyono, nama Jokowi--kendati ia terus menolak--terus bertengger di urutan tiga besar calon presiden dalam berbagai survei.

Terakhir adalah survei media yang dilakukan Pol Tracking Institute yang memperlihatkan bahwa pencalonan Jokowi paling populer ditulis oleh media massa nasional. Beberapa survei sebelumnya, nama Jokowi memang selalu berada di atas, bersaing dengan Megawati Soekarnoputri, Prabowo Subianto, dan nama-nama calon lainnya.

Meskipun survei banyak diragukan, tetapi kepopuleran Jokowi memang bisa disebut sebagai reaksi spontan rakyat yang mendambakan sosok pemimpin natural seperti Jokowi. Tidak sulit melihat kelebihan mantan Walikota Solo Jawa Tengah ini dibandingkan para calon yang beredar saat ini.

Kepopulerannya tidak dibuat-buat. Apa yang dilakukannya setiap hari selalu menarik perhatian awak media dan itu tidak pernah direkayasa. Bahkan, Jokowi pernah mengungkapkan kerisihannya karena setiap turun ke lapangan selalu dikerubungi para wartawan.

Sehingga, bila selama ini ada anggapan bahwa popularitas tidak identik dengan elektabilitas (keterpilihan), maka Jokowi tidak demikian. Berbagai gebrakannya sejak terpilih menjadi gubernur--terutama gaya blusukan-nya dan cepat mengambil keputusan--membuat semua orang di Jakarta selalu percaya bahwa apa yang diputuskan Jokowi betul-betul untuk kebaikan rakyat.

Memang, untuk menjadi calon presiden bagi Jokowi tidaklah mudah karena ia juga orang yang loyal dan setia kepada PDI Perjuangan dan Megawati Soekarnoputri. Akan sangat sulit bagi Jokowi untuk melangkahi Mega yang saat ini juga terus diperjuangkan partai banteng moncong putih itu untuk menjadi presiden.

Tetapi, kalaupun Mega merestui pencalonan Jokowi, sebaiknya perintis mobil Esemka ini tidak mencalonkan diri. Bukan karena kita meragukan kemampuannya, tetapi karena tugasnya saat ini belum selesai membenahi Jakarta. Bahkan, apa yang dilakukan Jokowi baru dalam tahap dasar, membangun sistem kerja pemerintahan dan menyelesaikan berbagai pekerjaan "darurat".

Sementara, membenahi Jakarta sesuai dengan visi yang dibangunnya saat ini, baru akan jalan. Kita tidak perlu memaksa Jokowi untuk memperbaiki negara ini karena dengan memperbaiki Jakarta pun, setidaknya sudah membuat perubahan pada negara ini. DKI Jakarta adalah ibukota yang merupakan etalase negara yang krodit dan kompleks.

Meskipun banyak pihak percaya bahwa saat ini adalah momentum yang tepat bagi Jokowi untuk maju, tetapi momentum bukanlah segalanya. Jokowi, dengan gaya kepemimpinan yang sederhana, melayani dan apa adanya, akan selalu memiliki momentum.

Tidak perlu buru-buru hanya untuk sebuah jabatan karena pemimpin sebuah negara yang menganut sistem demokrasi, bukan orang yang disorong-sorong atau yang ambisius. Pemimpin selalu lahir dari kebutuhan dan harapan rakyat.

Indonesia memang membutuhkan seseorang seperti Jokowi. Tetapi, memaksa Jokowi untuk mengejar jabatan, juga bukan hal yang baik, bagi Jokowi, juga bagi Jakarta. Yang penting saat ini, bagaimana memaksa setiap pemimpin di negara ini, bisa belajar dari Jokowi. Bukan janji-janji politik yang semakin banyak, justru semakin terlihat seperti tong kosong. Masa politik pencitraan sudah usai karena rakyat sudah bosan dibohongi. (***)

Penulis: Alfian Zainal
Editor:
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved