Bos SCI Melarikan Diri
Sikap Rudi Disayangkan Karyawan
Satu malam, Rabu (31/7/2013), Gusnida dan teman-temannya harus tidur berlapiskan dinginnya ubin di Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Batam.
Laporan Tribunnews Batam, Anne Maria Silitonga
BATAM, TRIBUN - Satu malam, Rabu (31/7/2013), Gusnida dan teman-temannya harus tidur berlapiskan dinginnya ubin di Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Batam.
Ditambah dengan derasnya hujan tadi malam, terasa sangat menusuk tulang mereka. Apalagi, mereka sempat tidak dibukakan pintu oleh penjaga gedung DPRD Batam.
"Tengah malam itu baru dibukakan pintu. Kalau nggak hujan nggak mungkin itu dibukakan. Kasihan teman teman yang tidur di atas (lantai dua). Mereka tidur di luar dengan cuaca dingin," kata Gusnida dengan mata berkaca-kaca, Kamis (1/8/2013).
Sambil mengusap tetesan air mata yang mulai jatuh di pipinya, ia pun menyayangkan sikap General Manager (GM) PT SCI yang terkesan tidak mempedulikan para buruh.
Sebagian buruh sendiri, katanya sudah berusaha menemui Rudi di kediamannya. Namun, GM PT SCI itu hanya menemui mereka di taman.
"Kalau memang dia (Rudi) merasa haknya diambil, dia seharusnya di sini bersama kami. Tapi apa, mana ada dia mau tahu. Cuma beberapa teman saja datang semalam ke rumahnya, tapi dia malah nyuruh kami cari kerja yang lain," ujarnya sambil terisak.
Bagaikan buah simalakama, Gusnida sendiri tidak bisa memutuskan harus terus bertahan di SCI atau menyerah dan mencari pekerjaan lain.
Pasalnya, dengan kondisi kehamilannya, sudah barang tentu tidak akan ada perusahaan yang ingin mempekerjakannya.
"Siapalah yang mau mempekerjakan orang hamil seperti saya ini lagi. Pertahankan yang ada sajalah. Bagaimana supaya ada tabungan untuk bayar persalinan nanti," kata dia lagi.
Sungguh berat beban yang ditanggung Gusnida, tak cuma memikirkan dirinya, wanita inipun masih harus membiayai tiga orang adiknya yang masih sekolah di Batam.
"Kami di sini semua. Orangtua saya pun di sini sama adik-adik. Semua masih sekolah. Semua masih butuh saya," jelasnya lirih.