Breaking News:

Embarkasi dan Debarkasi Batam 2013

Mengintip Geliat Pasar Kaget Di Kota Suci

Keberadaan pasar kaget di dekat lokasi Masjid Nabawi, Kota Madinah al Munawarah, menjadi daya tarik sendiri.

Tribun Batam/Candra P. Pusponegoro
Seorang pedagang pasar kaget sedang menerima uang pembayaran dari pembeli di Kota Madinah, Arab Saudi. Keberadaan pasar kaget ini menjadi tradisi turun-temurun sejak dulu. Selepas salat lima waktu, para pedagang pasar kaget ini menjajakan produknya di pintu-pintu keluar Masjid Nabawi. 

MADINAH, TRIBUN - Keberadaan pasar kaget di dekat lokasi Masjid Nabawi, Kota Madinah al Munawarah, menjadi daya tarik sendiri. Bermacam produk dijajakan di tempat ini. Ada baju, tasbih, siwak (alat gosok gigi dari kayu), celana, kain, sandal, dan produk lainnya.

Apalagi jika musim umrah atau haji tiba. Jemaah asal Tanah Air selalu berburu barang di sini. Pasar kaget ini letaknya berada di luar halaman Masjid Nabawi. Jumlah pedagangnya puluhan. Biasanya para pedagang menggelar produknya di antara celah-celah jalan samping hotel.

Sebelum digelar, ada sebagian yang memberikan alas dan ada yang langsung menaruh dagangannya. Tidak jauh berbeda dengan pasar-pasar yang ada di Indonesia.

Uniknya, jika waktu salat tiba, dagangan ditinggalkan begitu saja. Namun sebaliknya juga, usai salat, di seluruh pintu keluar Masjid Nabawi (arah barat, timur, utara, selatan), pasar kaget terus bermunculan dengan dagangan yang berbeda.

Rata-rata yang berjualan pedagang dari Timur Tengah. Pedagang asli bangsa Arab bisa hitung dengan jari. Jika orang Arab, tempat berjualan mereka lebih ekslusif, yakni di mal atau toko-toko permanen.

Kemudian jika calon pembelinya berasal dari Indonesia, para pedagang menawarkan dengan Bahasa Indonesia. Salah seorang jemaah umrah asal Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau, Agus Hendrik Monopoli, mengenai harga barang-barang boleh dibilang cukup terjangkau.

Mulai dari Saudi Arabian Riyal (SAR) 10, 15, 20, 30, 40, 50 hingga 100. Tergantung transaksi tawar-menawar di antara keduanya. Bila pandai menawar maka akan mendapat barang yang bagus dengan harga yang sangat murah.

"Kalau pintar menawar harga, kita pasti mendapat harga yang murah dengan kualitas bagus. Syukur-syukur kalau belanjanya selepas salat fardhu (jemaah), bisa dapat diskon lumayan," ujar Agus Hendrik Monopoli kala itu.

Agus menyarankan, bila sedang umrah di bulan Ramadan dan ingin berbelanja murah, sebaiknya berbelanjanya selepas salat tarawih.

Jika belanjanya sebelum salat maka harganya cukup tinggi. Hal ini dikarenakan minat jemaah yang berangkat ke masjid hanya untuk beribadah. Sedangkan keinginan untuk berbelanja nyaris tidak ada.

Halaman
123
Penulis:
Editor:
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved