Kemelut SMKN 4 Tanjungpinang
Nasib Guru di SMK Negeri 4 Tanjungpinang di Tangan Pak Dadang
Penanganan perselisihan beberapa guru dengan kepala sekolah SMK Negeri 4 Tanjungpinang sampai kini belum rampung.
Laporan Wartawan Tribun Batam, Eko Setiawan
TANJUNGPINANG, TRIBUN - Penanganan perselisihan beberapa guru dengan kepala sekolah SMK Negeri 4 Tanjungpinang sampai kini belum rampung.
Pasalnya, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Kadisdikbud) Tanjungpinang, Dadang A. G. masih berada di luar kota.
Seperti dikatakan Wakil Wali Kota Tanjungpinang, H. Syahrul saat ditemui Tribun, Jumat (20/6/2014) siang.
"Untuk permasalahan itu, kita masih menunggu Pak Dadang. Saat ini dia masih berada di luar kota," sebut Syahrul.
Dikatakan Syahrul, Komisi I DPRD Kota Tanjungpinang sudah membahas masalah ini dengan Pemko Tanjungpinang.
Namun apapun ujung dari permasalahan ini tentunya harus mendengar keputusan dari Dinas Pendidikan.
"Kemarin memang sudah ada pembahasannya. Komisi I juga sudah menelepon Pak Dadang. Kita tunggu Pak Dadang pulang dulu lah," sebutnya lagi.
Permasalahan ini dahulu juga sudah pernah ditengahi oleh Pemko Tanjungpinang bersama Dinas Pendidikan.
Mereka juga sudah mendatangkan pengawas ke sekolah tersebut. Ditanyakan, apa tindakan nantinya setelah Kadisdik datang.
Menurut Syahrul pihaknya akan melakukan cek dan ricek semua permasalahan dari awal hingga akhir.
"Kita cek dan ricek dulu lah. Biar semuanya jelas. Baru kita ambil tindakan yang pas," terangnya.
Ditanyakan, tanggapan terkait informasi yang mengatakan Sulasmi Kepala Sekolah SMK Negeri 4 Tanjungpinang “dibekingi” oleh Wali Kota Tanjungpinang.
Syahrul malah balik mempertanyakan, menurutnya informasi yang beredar itu perlu dipertanyakan. Sebab guru itu naik menjadi kepala sekolah tentunya harus melalui prosedur yang banyak, bukan main comot saja.
"Isu itu juga harus dipertanyakan. Saya rasa itu tidak benar," tegas Syahrul.
Sebelumnya, Ketua Komisi I DPRD Kota Tanjungpinang Maskur Tilawahyu meminta kepada Pemko dan Dinas Pendidikan untuk segera menyelesaikan permasalahan yang terjadi. Alasannya, ini merupakan masalah pendidikan.
Jangan sampai nantinya masalah ini menjadi perbincangan di nasional. "Ini rentan, karena masalah ini adalah masalah pendidikan," sebut Maskur beberapa waktu lalu.