Breaking News:

Kasus Mutilasi Bocah di Siak

MD Mutilasi dan Jual Daging Korban Agar Bisa seperti Ayahya

Keinginan tersangka MD membunuh dan memutilasi 7 korbannya diduga karena ingin memiliki kemampuan lebih dan terkenal atau status sosial yang tinggi.

Editor:
Tribunpekanbaru/Syahrul
Ibunda Muhammad Akbar (9), Evi Puspita Dewi (43) tengah menunjukkan foto anak lelaki ketiga dari lima bersaudaranya yang hilang pada 16 Maret lalu. Akbar dinyatakan sebagai korban pembunuhan sadis disertai mutilasi dan tindak sodomi oleh pelaku bernama Buyung alias MD (20). 

TRIBUNNEWSBATAM.COM, PEKANBARU- Keinginan tersangka MD membunuh dan memutilasi 7 korbannya diduga karena ingin memiliki kemampuan lebih dan terkenal atau status sosial yang tinggi ditengah masyarakat. Kemudian MD juga ingin mudah mendapatkan apa yang diinginkan (uang) seperti almarhum orangtuanya berprofesi sebagai dukun.

"Ingin memilik kemampuan lebih dan terkenal itu muncul dalam diri tersangka MD, karena ia dari kecil melihat orangtuanya gampang mendapatkan sesuatu dan uang atas prakter perdukunan," ujar Direktur Reskrimum Polda Riau Kombes Pol Arif Rahman Hakim melalui Kepala Bagian Psikologi Biro Sumber Daya Manusia (SDM) Kompol Novian kepada wartawan, Rabu (13/8). 

Jadi untuk memenuhi keinginannya itu MD yang tergolong pintar dan memiliki ilmu yang telah diturunkan orangtuanya  menekan orang yang berada dibawahnya. "Hal itulah yang dilakukannya terhadap mantan istrinya DD dan tersangka inisial S," ucap Novian.

Sedangkan terkait motifnya jelas Novian, itu muncul karena suatu proses. Makanya untuk memiliki kemampuan lebih, dihargai dan ditakuti serta mudah mendapatkan uang seperti orangtuanya, MD nekat membunuh dan memutilasi korbannya. "Untuk melakukannya MD mengajak dan mengancam DD agar mau memutilasi korban yang sudah dibunuhnya. Setelah itu MD mengajak inisial S yang memiliki penyakit atau kelainan pada alat kelaminnya dan S yang disuruh memotong-motong korbannya," ungkap Novian.

Ketika ditanya apakah motif tersangka MD melakukan itu ingin punya ilmu hitam atau ingin menjadi dukun? Novian langsung membantah. "Terkait niat MD menjadi dukun itu tidak benar, yang jelas niat MD adalah ingin memiliki kemampuan lebih dan status sosial yang tinggi ditengah masyarakat, bisa saja MD ingin kebal, ingin punya kesaktian dan ingin jadi dukun agar mudah dapat uang. Tapi kita tidak bisa memastikannya," papar Novian.

Selanjutnya saat ditanya apakah para korbannya disodomi terlebih dahulu sebelum dibunuh? Novian juga membantah ada sodomi dilakukan para tersangka terhadap korban. "Pasalnya dalam rekonstruksi untuk mengetes kejiwaan para tersangka, ternyata tidak ada sodomi, para tersangka hanya mempraktekan mereka membunuh korban dengan cara dicekik dan dipukul. Setelah itu kemaluan korban dipotong dan dimutilasi. Kalau pelecehan seksual mungkin saja, karena tersangka memegang kemaluan korban," papar Novian.

Sementara itu terkait perkembangan kasusnya Direktur Reskrimum Polda Riau Kombes Pol Arif Rahman Hakim mengatakan, saat ini pihaknya masih mencari kerangkan korban ke-7 di Sungai Rangau, Rokan Hilir. "Sebab sampai saat ini kita masih menemukan pakaian dan sandal korban FD," ucap Arif.

Ketika disinggung niat tersangka adalah membunuh dan memutilasi 9 korban agar MD mendapatkan kesaktian? Arif menegaskan itu tidak benar. "Korbannya hanya 7 dan itu juga diakui tersangka," kata Arif.

Terkait hal itu atas perintah dukun, Arif juga membantah. "Terkait itu kita tidak sampai kesana melakukan penyidikan kita fokus kepada pembunuhannya," jawab Arif. Saat ditanya lagi apakah dukun itu adalah orangtua tersangka S? Arif juga enggan berkomentar itu. "Sampai sekarang tidak ada mengarah ke orangtua S. Kalau mengarah kesana kemungkinan orangtua S juga kita periksa," ungkap Arif.

Arif juga menegaskan sampai saat ini motif tersangka hanya untuk menghilangkan alibi telah melakukan pelecehan seksua, makanya korban dibunuh dan dimutilasi. "Sedangkan terkait dagingnya dijual oleh tersangka MD, hasil pengakuan tersangka MD daging itu setelah dipotong-potong dimasukan ke keresek hitam dan dijual ke tiga warung tuang di Perawang Siak," papar Arif.

Tiga pemilik warung kata Dir Reskrimum, sudah diperiksa dan mereka mengaku tidak tahu daging yang dijual itu adalah daging manusia. "Sebab saat menjual daging yang sudah dipotong-potong dan dimasukan ke kantong kresek itu, tersangka mengaku adalah daging sapi dan menjualnya pada malam hari," ujar Direktur.

Terkait penjualan daging itu kata Arif, masih dalam penyidikan pihaknya. "Kita masih melacak kemana saja daging itu dijual. Motif tersangka menjual hanya untuk biaya perbaiki motor dan juga untuk biaya kehidupan," tegas Arif Rahman Hakim. 

Ketika ditanya apakah benar tersangka melakukan pembunuhan dan memutilasi korbannya untuk ilmu hitam? Arif mengaku pihaknya masih mendalami penyidikannya. Saat ditanya lagi apakah ada penambahan tersangka? "Penambahan tersangk masih dalam proses dan kita lihat aja perkembangannya," kata Arif.

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved