Minggu, 19 April 2026

Aksi Kejahatan Tengah Malam

Dari Trauma Sampai Meninggal, Korban Jambret di Batam Mayoritas Wanita

Dari korban jambret yang ada di Batam, mayoritas adalah wanita yang sedang mengendarai motor.

Laporan Tribunnews Batam, Elhadif Putra

TRIBUNNEWSBATAM.COM, BATAM - Masyarakat Kota Batam, Kepulauan Riau (Kepri), semakin merasa resah atas kejahatan di jalan raya yang semakin marak. Hampir setiap hari ada masyarakat Batam yang menjadi korban penjambretan.

Dari korban yang ada, mayoritas adalah wanita yang sedang mengendarai motor. Bukan hanya kehilangan harta dan mengalami luka-luka, bahkan beberapa korban jambret meninggal dunia.

Seperti yang di alami seorang gadis cantik, Vegi Verliana Motika (19) warga Perumahan Tering Raya blok B2 Nomor 6, Melcem, Batu Ampar. Vegi akhirnya meninggal dunia setelah mengalami koma selama lima hari setelah terjatuh akibat dijambret di kawasan Bukit Daeng Batuaji.

Begitupun dengan penjambretan yang dialami Siti Nurhalimah (33). Wanita yang berprofesi sebagai seorang guru di SD IT Rihatul Jannah Legenda Malaka tersebut meninggal dunia setelah dijambret di kawasan jalan raya kampus Universitas Internasional Batam, Baloi.

Beberapa warga yang pernah menjadi korban jambret mengalami trauma dan takut berkendara di malam hari. Hal tersebut diungkapkan Yeda. Wanita yang bekerja sebagai pegawai swasta ini pernah dijambret di Simpang Gorengan Baloi Kesehatan.

"Saya gak berani lagi keluar kalau malam-malam sendiri. Kalau pulang kerjapun saya gak berani lagi pulang malam," kata warga Baloi ini, Minggu (19/9).

Hal senada diungkapkan Yanti (35). Warga perumahan PJB Batu Aji ini mengatakan setelah mendengar seorang temannya pernah menjadi korban jambret dirinya takut untuk bepergian sendiri menggunakan sepeda motor selepas petang.

"Kalau dulu jam berapapun saya keluar sendiri gak apa-apa. Tapi sekarang mau keluar rumah malam-malam saya ditemani suami. Biasanya saya jemput anak ketempat les. Sekarang suami yang jemput. Suami saya juga larang saya keluar seniri," kata Yanti pada tribun.

Rasa cemas juga dirasakan oleh orangtua yang anak perempuannya biasa keluar malam. Seperti yang diungkapkan Amek. Warga Baloi ini selalu merasa was-was saat anaknya yang bekerja sebagai resepsionis di sebuah hotel di kawasan Nagoya belum sampai di rumah.

"Dia biasa pulang diantar temannya. Tapi saya tetap saja cemas. Kalau terlambat pulang, ibunya pasti sudah telefon dia," kata Amek.

Pria seprauh baya tersebut mengharapkan kejahatan di jalan raya ini harus segera dibasmi karena sudah sangat meresahkan masyarakat.

"Hendaknya polisi memberantas habis karena ini namanya sudah sangat meresahkan," tutupnya

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved