Breaking News:

Renungan Hari AIDS Seluruh Dunia: Mereka Berjuang Menjemput Cinta

Ruang Engku Hamidah lantai 4 gedung Pemko Batam tiba-tiba sunyi setelah satu jam dua orang narasumber seminar menjelaskan informasi seputar HIV/AIDS.

Tribun Batam/Istimewa
Pieter P. Pureklolong, Kepala Sekretariat Komisi Penanggulangan AIDS/KPA Kota Batam. 

Tanpa cinta dan kasih sayang segalanya jadi hambar. Cinta adalah hak kita yang diharapkan selalu diberikan tanpa syarat kepada orang lain, apapun dia.

Jika kita yang sehat mendapatkan cinta dari orang lain (masyarakat) dengan mudah, tidaklah demikian dengan para ODHA. Mereka harus berjuang menjemputnya.

Mereka harus berupaya keras mendapatkan cinta dan penghargaan masyarakat karena masih bersikap memberi stigma (cap buruk yang tetap) dan diskriminasi (pengucilan/pembedaan) kepada ODHA.

Suzana Murni yang dikenal sebagai perempuan ODHA pertama yang membuka diri serta berjuang membentuk kelompok dukungan sebaya Spiritia.

Meskipun dengan segudang aktivitasnya pun masih mendapatkan stigma dan diskriminasi dari teman-teman dekatnya apalagi masyarakat.

Dia pernah mengungkapkan isi hatinya dalam bentuk puisi seperti ini: “Jika kau sayang padaku / haruslah sayang padaku / tapi aku tidak bisa memaksamu / karena itu cintamu / Aku hanya bisa menerima / dan hidup di dalamnya / penuh bahagia”.  

Menurut Suzana, memang amatlah sulit bagi ODHA mendapatkan cinta begitu saja dari orang-orang sekitarnya. Karena cinta adalah hak kita sehingga terserah kita mau memberikan kepada siapa.

Dan Susana pun melanjutkan puisinya, “Jika kau benci kepadaku / bertanyalah pada dirimu / apamu yang terganggu / dengan adanya aku / dari situ kita berdua belajar / siapa kau / dan siapa aku…”

ODHA Batam, Di bawah Hati Malaikat

Bagi para ODHA, perjuangan mendapatkan cinta harus dimulai dari diri sendiri dan kelompok sebayanya.

Mereka membentuk kelompok untuk saling memberi dukungan dan peneguhan. Dua ibu yang tadi memberi kesaksian memang berjuang dengan spirit hati malaikat.

“Orang-orang mungkin berkata, para ODHA itu terbang seperti burung yang telah patah sayap-sayapnya. Tapi kami bernaung di bawah lubuk hati malaikat untuk menimbah kesegaran, menjemput kehangatan matahari pagi, menanti senyum orang-orang.”

“Bagi kami, senyum adalah jembatan paling pendek, yang meski hanya berlangsung sekejab, tetapi dapat dikenang sepanjang waktu,” jelas seorang ODHA.

Benarlah adanya perkataan ODHA itu, karena kitapun tahu sebuah pepatah Irlandia berbunyi sama “Tuhan sudah memberimu sebuah wajah, senyum harus kita lakukan sendiri”.

ODHA yang lain berkata, “setiap bangun tidur kami berharap dapat terus menikmati cahaya, oleh karena itu setiap ODHA yang meninggal dikenang melalui sebatang lilin cahaya”.

Menurut  filsuf Frans Brentano (1838-1917) yang suka mengutak-ngutik kata-kata dalam teka-teki bermutu, cahaya adalah jawaban dari teka-teki:

“Terangnya tak tertandingi, lajunya tak tersaingi burung di udara, mampu menembus mengalahkan anak panah, pintu dan jendela dia menerobos tanpa paksa, tak terduga, mendadak ia ada di mana-mana”.

Maka itu jadilah cahaya, jadilah terang bagi yang lain. Untuk teman-teman yang bergabung dalam KDS Angel Heart, KDS Cahaya, KDS Home Sweet Home, Gaya Partner dan KDS Kasper, selalulah optimis akan hidup, karena perjumpaan dan persahabatan dengan banyak orang sanggup memperkaya kita semua.

Cinta memang harus dijemput, diupayakan, diperjuangkan, karena dia milik orang lain, namun dengan upaya bersama kita dapat meraihnya.

Karena masih banyak orang berhati seperti malaikat, memberi cahaya kapan saja dan di manapun, kepada siapapun, memberi tampungan dalam home yang manis, dengan gaya ceria-lucu-usil seperti kasper, yang tentu menyenangkan bukan? “Tuhan tidak tidur”. (Pieter P. Pureklolong, Kepala Sekretariat Komisi Penanggulangan AIDS/KPA Kota Batam)

Editor:
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved