Breaking News:

Renungan Hari AIDS Seluruh Dunia: Mereka Berjuang Menjemput Cinta

Ruang Engku Hamidah lantai 4 gedung Pemko Batam tiba-tiba sunyi setelah satu jam dua orang narasumber seminar menjelaskan informasi seputar HIV/AIDS.

Tribun Batam/Istimewa
Pieter P. Pureklolong, Kepala Sekretariat Komisi Penanggulangan AIDS/KPA Kota Batam. 

Hari AIDS Sedunia 1 Desember 2014 - Mereka Berjuang Menjemput Cinta

Oleh: Pieter P. Pureklolong*

Ruang Engku Hamidah lantai 4 gedung Pemko Batam tiba-tiba sunyi setelah hampir satu jam dua orang narasumber seminar menjelaskan informasi seputar HIV/AIDS kepada para peserta rata-rat ibu-ibu pegiat PKK Kota Batam.

Itu terjadi saat narasumber mengundang dua orang untuk tampil ke depan. Sunyi bercampur tegang karena dua orang ibu yang tampil itu adalah Orang Dengan Hidup denga HIV/AIDS (ODHA).

Dua Ibu yang ODHA itu berjalan ke depan hadirin. Yang satu kelihatan agak canggung. Tiada senyum, juga tak tampak kesedihan di wajahnya. Datar saja dia melangkah sambil menggendong putrinya berumur  satu setengah tahun.

Sang putri itu cantik seperti ibunya. Sedangkan ibu yang satu lagi berjalan sangat yakin disertai senyum mengembang, sambil putranya yang memang ganteng terlihat sibuk bermain-main sendiri di belakang para hadirin.

Dua ibu ODHA ini tidak memakai penutup wajah atau topeng. Tampil apa adanya, tidak menutup-nutupi bahwa mereka memang ODHA.

“Saya seorang ibu rumah tangga biasa. Saya bukanlah pekerja seks, juga tidak pernah macam-macam,” kata ODHA yang pertama dengan nada datar sambil memperbaiki rambut putrinya.

Kemudian dia melanjutkan, “Anak saya ada dua, suami saya telah meninggal karena AIDS. Saya tahu terkena HIV saat mau melahirkan anak yang kedua ini.”

Dia menunjuk putrinya di gendongan kemudian terdiam ketika ada suara spontan dari hadirin bertanya, “Anaknya bagaimana?” Dia menjawab masih dengan suara datar “putri saya ini positif”.

Sontak saja seperti dengungan sekelompok lebah yang terbang, hadirin bereaksi mengeluarkan suara bersama “aduh…”. Ada yang berkata “astaghfirullah hal azhim”

Dia tenang mendengar reaksi hadirin, masih dengan pandangan datar dan tanpa senyum sambil tangannya menepuk-nepuk halus bagian punggung putrinya.

Terpancar kasih sayang dari lubuk hati kepada putrinya itu. Kemudian dia melanjutkan ceritera bagaimana dia berjuang mengatasi HIV di tubuhnya.

“Saya bersyukur masih ada orang-orang seperti dokter dan teman-teman yang memberi dukungan, perawatan dan pengobatan dengan tulus hati. Saya tidak pernah memikirkan pandangan orang, saya hanya fokus pada anak-anak saya”, dia berkata serius atas kesaksiannya.

ODHA yang kedua kemudian berdiri di hadapan hadirin. Dia mengambil microphone dan melempar senyum. Pandangannya menyapu seluruh ruangan seperti memeriksa satu persatu wajah dan keingin-tahuan para hadirin.

Tampaknya dia menguasasi suasana di ruangan itu. Matanya kemudian berhenti pada seorang perempuan setengah baya berjilbab di sebelah kanan barisan kursi ketiga dari belakang.

Lalu dia berkata “mungkin kawan saya di belakang itu yang dulu kerja satu perusahaan terkejut, kok saya yang berdiri di sini sebagai ODHA ya? Atau mungkin ibu di sebelah sana”.

Kali ini pandangan matanya berpindah ke seorang ibu di barisan tengah kursi keempat dari belakang. “Ibu mungkin juga tidak menyangka bahwa sejak pagi tadi kita ngobrol dan bercanda, ternyata ibu mengobrol dengan seorang ODHA”.

Sebagai seorang ODHA dan pegiat HIV/AIDS di Kota Batam dia sangat lincah-mengalir memberikan kesaksian hidupnya (testimonial).

“Saya mengetahui terular HIV saat mau operasi caesar karena calon bayi saya cukup berat, sedang tubuh saya kecil. Ketika pertama kali mendengar dari dokter bahwa saya positif HIV, pikiran saya tidak begitu konsentrasi ke sana.”

“Saya hanya konsentrasi ke calon anak saya yang akan lahir melalui operasi. Suami saya juga tahu bahwa saya positif seperti dirinya. Setelah operasi saya diyakinkan oleh dokter bahwa anak saya negatif, dan Alhamdullilah sampai dengan umur lima tahun ini, putra saya tetap negatif”.

Seorang peserta seminar bertanya, “apa yang membuatmu bertahan dan setegar ini?” Sang ODHA kedua itu menjawab dengan yakin dan apa adanya.

“Sebagai manusia biasa, saya juga pernah merasa pesimis dengan hidup saya, namun kemudian saya berpikir rasional saja, bahwa semua orang bisa sakit apa saja.

Semua orang punya masalah dan banyak yang berjuang untuk bisa keluar dari masalahnya. Apalagi saya mendapat dukungan luar biasa dari dokter dan teman-teman dari LSM Peduli AIDS serta dari kelompok dukungan sebaya (KDS).

Saya sendiri adalah pegiat HIV di sebuah LSM, dan sekaligus menjadi koordinator KDS. Jadi ibu bertanya dari mana dan apa yang membuat saya tegar, inilah jawaban saya.

Tadi saya berjalan ke depan, berdiri dan berbicara di depan ibu-ibu sekalian juga membuat saya optimis bahwa saya bisa diterima, bisa dicintai.

Dengan bersedia membuka diri di hadapan ibu-ibu saat ini, di sini, saya seolah sedang berjuang menjemput cinta dan mengharapkan untuk dihargai ibu-ibu sekalian kepada saya dan teman-teman ODHA yang lain, katanya.

Berjuang Menjemput Cinta

Jika ODHA yang kedua di atas sepertinya tanpa beban dalam bersaksi di depan Ibu-ibu PKK, namun sebetulnya dia berjuang keras untuk itu, sebagaimana yang dikatakannya.

“Saya melangkah ke sini menjemput cinta dan penghargaan ibu-ibu”. Cinta semestinya menjadi bagian kebutuhan hidup yang paling vital bagi manusia.

Tanpa cinta dan kasih sayang segalanya jadi hambar. Cinta adalah hak kita yang diharapkan selalu diberikan tanpa syarat kepada orang lain, apapun dia.

Jika kita yang sehat mendapatkan cinta dari orang lain (masyarakat) dengan mudah, tidaklah demikian dengan para ODHA. Mereka harus berjuang menjemputnya.

Mereka harus berupaya keras mendapatkan cinta dan penghargaan masyarakat karena masih bersikap memberi stigma (cap buruk yang tetap) dan diskriminasi (pengucilan/pembedaan) kepada ODHA.

Suzana Murni yang dikenal sebagai perempuan ODHA pertama yang membuka diri serta berjuang membentuk kelompok dukungan sebaya Spiritia.

Meskipun dengan segudang aktivitasnya pun masih mendapatkan stigma dan diskriminasi dari teman-teman dekatnya apalagi masyarakat.

Dia pernah mengungkapkan isi hatinya dalam bentuk puisi seperti ini: “Jika kau sayang padaku / haruslah sayang padaku / tapi aku tidak bisa memaksamu / karena itu cintamu / Aku hanya bisa menerima / dan hidup di dalamnya / penuh bahagia”.  

Menurut Suzana, memang amatlah sulit bagi ODHA mendapatkan cinta begitu saja dari orang-orang sekitarnya. Karena cinta adalah hak kita sehingga terserah kita mau memberikan kepada siapa.

Dan Susana pun melanjutkan puisinya, “Jika kau benci kepadaku / bertanyalah pada dirimu / apamu yang terganggu / dengan adanya aku / dari situ kita berdua belajar / siapa kau / dan siapa aku…”

ODHA Batam, Di bawah Hati Malaikat

Bagi para ODHA, perjuangan mendapatkan cinta harus dimulai dari diri sendiri dan kelompok sebayanya.

Mereka membentuk kelompok untuk saling memberi dukungan dan peneguhan. Dua ibu yang tadi memberi kesaksian memang berjuang dengan spirit hati malaikat.

“Orang-orang mungkin berkata, para ODHA itu terbang seperti burung yang telah patah sayap-sayapnya. Tapi kami bernaung di bawah lubuk hati malaikat untuk menimbah kesegaran, menjemput kehangatan matahari pagi, menanti senyum orang-orang.”

“Bagi kami, senyum adalah jembatan paling pendek, yang meski hanya berlangsung sekejab, tetapi dapat dikenang sepanjang waktu,” jelas seorang ODHA.

Benarlah adanya perkataan ODHA itu, karena kitapun tahu sebuah pepatah Irlandia berbunyi sama “Tuhan sudah memberimu sebuah wajah, senyum harus kita lakukan sendiri”.

ODHA yang lain berkata, “setiap bangun tidur kami berharap dapat terus menikmati cahaya, oleh karena itu setiap ODHA yang meninggal dikenang melalui sebatang lilin cahaya”.

Menurut  filsuf Frans Brentano (1838-1917) yang suka mengutak-ngutik kata-kata dalam teka-teki bermutu, cahaya adalah jawaban dari teka-teki:

“Terangnya tak tertandingi, lajunya tak tersaingi burung di udara, mampu menembus mengalahkan anak panah, pintu dan jendela dia menerobos tanpa paksa, tak terduga, mendadak ia ada di mana-mana”.

Maka itu jadilah cahaya, jadilah terang bagi yang lain. Untuk teman-teman yang bergabung dalam KDS Angel Heart, KDS Cahaya, KDS Home Sweet Home, Gaya Partner dan KDS Kasper, selalulah optimis akan hidup, karena perjumpaan dan persahabatan dengan banyak orang sanggup memperkaya kita semua.

Cinta memang harus dijemput, diupayakan, diperjuangkan, karena dia milik orang lain, namun dengan upaya bersama kita dapat meraihnya.

Karena masih banyak orang berhati seperti malaikat, memberi cahaya kapan saja dan di manapun, kepada siapapun, memberi tampungan dalam home yang manis, dengan gaya ceria-lucu-usil seperti kasper, yang tentu menyenangkan bukan? “Tuhan tidak tidur”. (Pieter P. Pureklolong, Kepala Sekretariat Komisi Penanggulangan AIDS/KPA Kota Batam)

Editor:
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved