Wahyu Tertangkap Setelah Tiga Tahun Nyopet

Saya dah tiga tahun nyopet. Biasa beroperasi di tempat belanja di Jodoh

Wahyu Tertangkap Setelah Tiga Tahun Nyopet
Tribunnews Batam/ Kartika Kwartya
Muchlisin (kotak-kotak) saat diamankan

Laporan Tribunnews Batam Wahib Wafa

TRIBUNNEWSBATAM.COM, BATAM - Setelah dua tahun menjadi incaran jajaran kepolisian, Wahyu (35) alias Edo akhirnya tertangkap. Pelaku kriminal ini merupakan spesialis copet yang kerap beraksi di Tos 3000 dan kawasan perbelanjaan di Jodoh, Batam, lainya. Tak tanggung-tanggung, profesi yang ia geluti itu sudah berlangsung selama tiga tahun dan korbannya sudah ratusan orang.

"Saya dah tiga tahun nyopet. Biasa beroperasi di tempat belanja di Jodoh," ujar Wahyu saat gelar ekspos di Mapolsek Sekupang, Kamis (26/3/2015) siang.

Profesi itu nampaknya sudah sangat melekat bagi Wahyu. Bukan hanya iseng saja, pria ini menghidupi keluarganya yang ada di kampung halamannya di Palembang dari hasil mencopet. Bahkan pelaku sampai lupa berapa ratus orang yang sudah menjadi korbannya. "Saya sudah lupa berapa korbannya. Ratusanlah, Bang," ujar pria beranak dua ini.

Dari hasilnya mencopet, rata-rata uang yang ia kumpulkan mencapai Rp 4 juta hingga Rp 10 juta, bahkan lebih setiap bulannya. Uang tersebut baginya lebih dari cukup untuk menutupi kebutuhan dia dan keluarganya. Sisanya, ia gunakan untuk pesta miras bareng komplotanya.

Dua anaknya kini masih berusia 6 tahun dan 3 tahun. Pengakuan di hadapan penyidik, tujuan dia merantau ke Batam tak lain hanya untuk mencopet.

Profesi itu nampaknya tak main-main ia geluti. Soalnya, dia tinggal di kos-kosan yang terbilang mewah. Untuk masuk ke dalam kamar kosnya itu, butuh pass card untuk membuka pintu. Ruang kamarnya pun dilengkapi dengan pendingin atau AC. "Kalau bayar perminggu Rp 600 ribu. Kalau per bulan Rp 1,6 juta," ujarnya saat ditanyai sewa kos di kawasan Plaju, Jodoh ini.

Sasaran korban yang paling sering menjadi targetnya adalah warga negara Singapura. Alasannya, kocek warga negara asing cenderung lebih tebal. Selain rupiah, di dalam tas mereka umumnya banyak dolar Singapura. "Saya lebih targetkan mereka warga Singapura. Soalnya dompetnya tebel-tebel. Paling sedikit itu satu jutaan," ujarnya.

Tak hanya uang saja yang bisa diambil dari tas maupun dompet si korban, terkadang perhiasan dan handphone pun dia dapatkan. Barang berharga tersebut dia jual ke penadah.

Sepak terjang di dunia kriminal tak hanya beraksi untuk mencopet. Di sela waktunya itu, Wahyu juga kerap membobol rumah. Terakhir ia beraksi di Komplek Perairan Sungai Harapan. Namun, aksi itu juga yang membuatnya sial. Wahyu yang kala itu beraksi bersama Mamat (25) kepergok warga setempat saat mencongkel jendela, Rabu (26/3/2015) sore.

Mamat memang memiliki spesialisasi membobol rumah. Dalam waktu seminggu terakhir, Mamat bersama Wahyu serta satu kawan lainya yang saat ini masih buron, menjebol empat rumah warga.

"Minggu ini sudah empat kali. Ada perumahan di Belakang Hotel Planet Jodoh, Bengkong Indah, Batuaji dan terakhir di Sungai Harapan," ungkap Mamat.
Biasa Mamat, setelah mendapat hasil besar dari mencuri, langsung pulang ke Palembang. Setelah itu ia kembali ke Batam. "Kalau dah dapat hasil saya balik ke Palembang buat tengok istri. Entar balik lagi," katanya.

Kanit Reserse Kriminal Polsek Sekupang Iptu Marzuki Zaen mengatakan bahwa kedua pelaku sudah menjadi target semua polisi di Batam. Bahkan saat Marzuki masih dinas di Polda Kepri sebagai tim Buru Sergap (Buser), nama Wahyu alias Edo sebagai copet sudah santer.

"Nama dia sudah terkenal. Kesulitan kita mengejar karena tempat dia beraksi berpindah-pindah. Begitu juga dengan Mamat. Setelah dia selesai mencuri dia pulang ke Pelembang," ujar Marzuki.

Tags
copet
Editor: Rio Batubara
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved