Breaking News:

Putut: Indonesia Harus Lakukan Komunikasi Kerja

Komunikasi model ini dimaksudkan untuk menghindari silang pendapat yang sia-sia di publik dan lebih mengedepankan prestasi kerja pada bidangnya.

Istimewa
Konsultan Komunikasi Politik, AM Putut Prabantoro (baju putih) dan Hypolitus Layanan, Kepala Sub Direktorat Media Online Ditjen Informasi dan Komunikasi Publik Kemenkominfo (Baju Hijau), dalam Workshop Bimtek Tata Kelola Media Center Kemenkominfo tahun 2015, Pontianak, Rabu (20/5/2015). 

Laporan Tribunnews Batam, Iman Suryanto

TRIBUNNEWSBATAM.COM, PONTIANAK - Untuk menghapus kegaduhan politik yang belakangan terus terjadi, penyelenggara negara dan Bangsa Indonesia diminta untuk segera melakukan komunikasi kerja.

Komunikasi model ini dimaksudkan untuk menghindari silang pendapat yang sia-sia di publik dan lebih mengedepankan prestasi kerja pada bidangnya.

Dalam komunikasi kerja, keteladan dan pencapaian kerja seseorang menjadi lebih penting dibanding daripada sekedar mencari kesalahan ataupun kegagalan pihak lain.

Demikian diungkapkan Konsultan Komunikasi Politik, AM Putut Prabantoro, dalam “Workshop BimTek Tata Kelola Media Center Kemenkominfo Tahun 2015”, Pontianak, Kamis (21/5/2015).

Workshop yang berlangsung tiga hari ini, dihadiri oleh 56 pengelola media center daerah dari seluruh Indonesia.

Dijelaskan, kegaduhan politik pada saat ini sudah sampai pada taraf membosankan sebagai berita. Komunikasi yang digunakan dalam kegaduhan politik sebagian besar komunikasi konflik, perseteruan dan pertarungan.

Komunikasi konflik ini menggunakan bahasa verbal yang bernuansakan perserteruan. Dampak yang sangat dirasakan adalah, generasi baru yang dilahirkan pada tahun-tahun datanganya Reformasi akan menjadikan para penyelenggara negara, elit politik ataupun tokoh nasional yang berkonflik sebagai role model dalam hidup mereka.

“Ini sangat membahayakan. Kalau kita lihat tayangan televisi ataupun berita, semuanya bernuansakan negatif. Berita di Indonesia isinya hanya umpatan, caci maki, tidak ada kedamaian, selalu mengundang musuh dan memperlihatkan kekuasaan. Komunikasi verbal yang digunakan lepas dari konteks pembangunan bangsa dan penyiapan generasi baru ke depan yang seharusnya ada. Bisa dibayangkan dalam waktu 10 tahun, generasi baru itu akan mulai memimpin negara dengan pola seperti yang mereka lihat selama ini,” ujar Putut Prabantoro dalam rilis yang diterima Tribun Batam.

Halaman
12
Editor:
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved