Citizen Journalism

Produsen Kepalsuan (Menyoal Kepemilikan Ijazah Palsu)

Ijazah adalah seonggok kertas yang menjadi saksi atas keterlibatan seseorang dalam proses belajar dalam beberapa masa.

Produsen Kepalsuan (Menyoal Kepemilikan Ijazah Palsu)
IStimewa
Eulis Cahya Tarbiyah, S.Sos., M.A, Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Putera Batam 

Berkisar harga 15 juta sampai 40 juta untuk gelar sarjana S1 atau S2. Sebuah angka fantastis jika dikalikan dengan jumlah pemesan jika nanti terbukti banyak pemesannya.

Atas nama pendidikan dan kebesaran pendidikan, oknum biang sial semisal ini layak mendapat sangsi sosial yang setimpal. Sangsi sosial seperti pemecatan tidak hormat, pengucilan, penyitaan harta benda, pemiskinan dan sebagainya.

Dia telah ceroboh mempertontonkan kebobrokan mental dan melacurkan pendidikan demi segepok uang. Demi menuai keuntungan pribadi, dia telah memercikkan najis pada sucinya esensi pendidikan.

Dia telah menanam benih ketidakjujuran dan mengajarkan kepada orang lain naifnya pilihan yang dipakainya. Mafia pendidikan, tidak habis-habisnya mereka layak digelari bermacam-macam sebutan buruk atas kerja dosa mereka.

Demikian selanjutnya mereka layak dikandangkan dalam lembabnya pendidikan jeruji besi.

Pembeli Kepalsuan
Jika benar problematika ini telah berlangsung lama, bisa dikata berapa banyak pemilik ijazah palsu yang beredar dalam masyarakat kita. Belum pernah selesai penyakit sosial yang lain diatasi, pemilik ijazah palsu menambahi barisan penyakit sosial yang lainnya. Secara kasat mata mereka dapat berbentuk sangat santun, berwibawa, lugu dan alim.

Repotnya, terkadang mereka tidak merasa bersalah karena menganggap hal tersebut lumrah dan biasa. Mereka susah dikenali karena pelaku kejahatan ini bisa jadi tidak gampang diterka, bahkan terkadang memiliki status figure public seperti kasus yang akan menjerat anggota DPR RI yang terhormat baru-baru ini.

Tanpa proses pendidikan yang sewajarnya, para pemilik ijazah palsu melenggang bangga dengan kepalsuannya. Mereka tidak sadar atau bisa saja sadar. Satu maksudnya yakni membangun citra kedirian di atas gelar palsu sehingga telah menutup mata hatinya.

Kebanggan semu dengan gelar “abal-abal” dan “seolah-olah”. Mereka menipu sekelilingnya bahkan keluarga dan sanak saudaranya menjadi korban penipuan yang mungkin tidak akan pernah tahu.

Halaman
1234
Editor:
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved