"Pak Tijpta tidak Pernah Hadir di Notaris apalagi Tandatangan Akta"

Hasan yang dihadirkan dalam sidang lanjutan sengketa BCC Hotel mengatakan bahwa Tjipta Fudjiarta tidak pernah hadir di hadapan notaris Anly Candana.

tribunnews batam/zabur
Lima saksi masing-masing Andreas Sie, Hasan, Efendi Ing, Jhonson Wie dan Notaris Anly Cenggana, yang dihadirkan dalam sidang perkara sengketa BCC Hotel dengan terdakwa Conto Chandra dalam sidang di Pengadilan Negeri Batam, Senin (22/6/2015). 

Laporan Tribunnews Batam, Zabur A

TRIBUNNEWSBATAM.COM, BATAM-  Hasan yang dihadirkan dalam sidang lanjutan sengketa BCC Hotel dengan terdakwa Conti Chandra dalam sidang di Pengadilan Negeri (PN) Batam mengatakan bahwa Tjipta Fudjiarta tidak pernah hadir dihadapan notaris Anly Candana, apalagi ikut penandatangan akta.

"Pak Tijpta tidak pernah hadir di hadapan notaris apalagi untuk penandatanganan akta. Kata Notaris Anly tidak apa-apa, nanti pak Tjipta menyusul tandatangannya," kata Hasan menjawab pertanya Majelis Hakim, Senin (22/6/2015).

Sidang itu sendiri dipimpin Ketua PN Batam, Khairul Fuad dengan anggota Majelis Hakim, Budiman Sitorus dan Alfian.

Sedangkan jaksa Aji Satrio Perkoso bertindak sebagai JPU (Jaksa Penuntut Umum). Sementara Conti Chandara hadir didampingi Muhammad Rum selaku Penasihat Hukum (PH).

Dalam persidangan itu, JPU menghadirkan lima saksi masing-masing Andreas Sie, Hasan, Efendi Ing, Jhonson Wie dan Notaris Anly Cenggana.

Andreas Sie dan Hasan, dihadiran sebagai saksi untuk memberikan keterangan soal kepemilikan sebagian saham PT Bagun Megah Semesta (BMS) sesuai Akta pendirian perusahaan nomor 13 Tahun 2007. Sementara, Efendi Ing dan Jhonson Wie memberikan kesaksian penjualan 11 unit apartemen BCC milik PT BMS.

Menurut Hasan, semua saham miliknya dibeli sama Conti Chandara dan dituangkan dalam akta 89.

"Setelah ditandatangani akta nomor 03, saham saya dibayar lewat pak Wie Meng. Begitu juga dengan anak saya Sutriswi juga sudah diterima hasil jual beli saham melalui Wie Meng," katanya.

Selanjutnya, kata Hasan karena terdakwa mendapatkan pendamping makanya terbitlah akta 98 yang membatalkan akta 89. Dalam akta 89 itu tertuang jual beli saham milik Wie Meng, Hasan dan Sutriswi.

Halaman
123
Editor:
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved