Mimpi Batam Miliki Kebun Raya

Kerugian Negara dari Proyek Kebun Raya Batam Rp6,9 Miliar

Tim penyidik Satgasus Kejati Kepri, akhirnya menemukan nilai ril kerugian negara dalam kasus dugaan korupsi pembangunan Kebun Raya Batam.

Kerugian Negara dari Proyek Kebun Raya Batam Rp6,9 Miliar
tribunnews batam/aprizal
Yusirwan, selaku Direktur PT Asfri Putra Rora (PT APR) saat ditangkap Kejati Kepri, Selasa (28/4/2015) malam. 

Laporan Tribunnews Batam, Aprizal

TRIBUNNEWSBATAM.COM, TANJUNGPINANG- Tim penyidik Satgasus Kejaksaan Tinggi (Kejati) Kepri, akhirnya menemukan nilai ril kerugian negara dalam kasus dugaan korupsi pembangunan Kebun Raya Batam.

Jika sebelumnya penyidik memperkirakan estimasi kerugian negara sekitar Rp11 miliar dari nilai HPS RP21 miliar, namun setelah dilakukan audit oleh BPKP ditemukan kerugian negara Rp6,9 miliar.

"Setelah dilakukan audit secara resmi oleh BPKP, ternyata kerugian negara ditemukan sekitar Rp6,9 miliar. Jika tidak ada halangan pada tanggal 27 audit BPKP sudah rampung BAP. Penyidik menargetkan, awal Agustus sudah dilimpahkan ke Jaksa Penuntut,"beber Asisten Tindak Pidana Khusus (Aspidsus) Kejati Kepri, Yulianto SH, dalam konferensi pers, Kamis (23/7/2015).

Sebagaimana diketahui sebelumnya, tim penyidik menetapkan tiga orang tersangka yang dianggap paling bertanggungjawab.

Ketiga tersangka yakni M Zaini Yahya, selaku project manager PT Arah Pemalang, kontraktor pembangunan Kebun Raya Batam tahap pertama.

Dalam penyidikan kedua, penyidik kembali menetapkan dua orang tersangka. Kedua tersangka yakni, Yusirwan, selaku Direktur PT Asfri Putra Rora (PT APR).

Selain itu, penyidik juga menetapkan tersangka Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) pembangunan Kebun raya Batam, Ir One Indirasari Hardi.

"Perlu teman-teman ketahui, Yusirwan ini adalah Direktur PT APR yang meminjam bendera PT Arah Pemalang (PT AP) selaku pemenang tender. Dalam pengerjaan proyek pembangunan Kebun Raya Batam, tersangka sebagai orang yang mengatur dari mulai proses lelang hingga dimenangkan oleh PT AP. Terkait pembayaran pengerjaan proyek, tersangka juga yang menerima melalui PT AP,"ungkap Yulianto.

Dalam pembayaran pengerjaan proyek, jelas Yulianto, dana yang dibayarkan sebanyak 100 persen masuk ke dalam rekening PT AP.

Setelah masuk ke rekening PT AP, tambahnya, uang kembali diambil oleh tersangka.

"Tapi dalam proses peminjaman bendera PT AP, dana untuk pembangunan Kebun Raya Batam sudah terlebih dahulu dibagi-bagi. Dana yang dibagi-bagi itu disebut sebagai fee. Pihak yang mempereloh fee tersebut, salah satunya Direktur PT AP, Syamsir Gultom, dan uang fee itu sudah dikembalikan sebanyak Rp 360 juta,"beber Yulianto.

Yulianto kembali menegaskan, dalam pengungkapan kasus dugaan korupsi pembangunan Kebun Raya Batam tidak menutup kemungkinan akan bertambah tersangkanya.

Sesuai dalam kontrak, katanya, ternyata yang menandatangan kontrak, Syamsir Gultom, selaku Direktur PT AP.

Editor:
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved