Rupiah Kian Lemah Terhadap Dolar Amerika, US$1 dijual Rp14.150
rupiah terus melemah setelah tembus di atas Rp14.000 per dolar Amerika Serikat, sejak akhir pekan lalu.
Laporan Tribunnews.com, Seno Tri Sulistiyono
TRIBUNNEWSBATAM.COM, JAKARTA - Nilai tukaR rupiah semakin melemah di pembukaan perdagangan pada awal pekan terakhir bulan ini.
Di pasar spot antarbank, Senin (24/8/2015), rupiah terus melemah setelah tembus di atas Rp14.000 per dolar Amerika Serikat, sejak akhir pekan lalu.
Dikutip dari situs resmi Bank Central Asia, US$1 dijual Rp14.150, harga beli yang dipatok, yaitu Rp13.850 per dolar AS.
Kurs tersebut, berlaku untuk transaksi valuta asing (valas) yang dilakukan langsung di counter kantor BCA.
Menanggapi hal tersebut, dinilai Bank Indonesia karena adanya aksi jual besar-besaran dari investor asing di pasar saham global.
Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo mengatakan, Bank Indonesia terus melakukan pemantauan pasar global.
Dan saat ini kondisi ekonomi dunia penuh ketidakpastian. Bahkan, pelaku pasar modal di seluruh dunia sedang terjadi aksi jual.
"Ada global sell off jadi pelaku pasar modal hampir semua sedang lepas saham. Ini berdampak ke Indonesia," kata Agus di di gedung Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Jakarta, Senin (24/8/2015).
Kurs tengah Bank Indonesia pada hari ini mencatat, rupiah melemah ke level Rp 13.998 per dolar AS dari posisi sebelumnya Rp 13.895 per dolar AS.
Selain itu, Agus menilai kondisi perekonomian Amerika Serikat yang sedang mengalami perbaikan turut menekan rupiah karena semakin memperkuat ekspektasi akan dinaikkannya suku bunga Bank Sentral AS (The Fed).
"Kemudian kondisi devaluasi di Tiongkok, dan ada juga komoditas yang turun akibat harga minyak yang turun, kemudian kekhawatiran orang liat pertumbuhan ekonomi Indonesia," ujar Agus.
Guna menahan pelemahan rupiah lebih dalam lagi, Agus mengaku terus melakukan pemantauan di pasar valuta asing dan meminta para eksportir untuk tidak menyimpan dolar AS dalam jumlah besar.
"Eksportir sekarang sudah saatnya lepas valuta asing agar supply dan deman seimbang agar nilai tukar enggak tertekan," ujar Agus.(*)