Debat Calon Kepala Daerah

Gara-Gara Stiker Warna Kuning, Debat Publik Cagub Kepri Malam Tadi Ricuh

Gara-gara stiker warna kuning, debat pelaksanaan debat publik antar cagub dan cawagub yang sejak awal berjalan aman dan tenang, di akhir acara terusik

Gara-Gara Stiker Warna Kuning, Debat Publik Cagub Kepri Malam Tadi Ricuh
Tribun Batam/Anne Maria
Kericuhan setelah pelaksanaan Debat calon Kepala Daerah Kepri di Hotel Pasific 

BATAM.TRIBUNNEWS.COM, BATAM - Gara-gara stiker warna kuning, debat pelaksanaan debat publik antar pasangan calon (Paslon) cagub dan cawagub yang sejak awal berjalan aman dan tenang, di akhir acara terusik.

Keributan antara tim sukses dan pendukung Paslon Sani-Nurdin (Sanur) dan Soerya-Ansar (SAH) terjadi.

Ketika menuruni panggung acara, tiba-tiba terdengar teriakan-teriakan massa dari paslon SAH.

Ernawati, tim pemenangan SAH nampak naik ke atas bangku dan berteriak-teriak agar komisi pemilihan umum (KPU) Kepri bertindak adil.

Usut punya usut, peristiwa kericuhan antara pendukung tersebut ternyata dikarenakan adanya tim pemenangan Sanur yang membawa alat peraga ke dalam ruangan tempat acara tersebut.

Hal tersebut pun membuat para pendukung SAH gerah dan emosi.

"Nggak tahu kenapa, bapak itu lagi pegang-pegang Hape sambil memegang kertas kuning begitu. Tiba-tiba kertas kuningnya ditarik sama yang baju merah-merah," ujar salah seorang tamu undangan yang enggan disebutkan namanya.

Kertas kuning yang dimaksud rupanya stiker bertuliskan "Sani Ayah Kita" yang dibawa oleh pendukungnya.

"Tangkap, tangkap dia. Ini namanya melanggar aturan. Kenapa bawa alat peraga," ujar Erna berteriak saat itu.

Massa dari kedua kubu pun terlibat aksi dorong-dorong dan saling mengejek.

Akibatnya kericuhan pun tak terelakan lagi. Kepolisian langsung mengamankan situasi tersebut. Mereka mencoba memisahkan antar kedua pendukung.

Sementara itu, Ketua Bawaslu Kepri, ‎Razaki Persada pun cukup heran dengan keberadaan stiker tersebut. Pasalnya, pengamanan dan pemeriksaan yang dilakukan panitia maupun kepolisian sangat ketat.

"Kok bisa lolos bingung juga. Tadi masuk di sini saja diperiksa berkali-kali. Tas suruh dibuka. Pengamanan sudah cukuplah," kata Razaki.

Menurut Razaki, secara peraturan perundang-undangan tidak ada aturan khusus yang mengatur hal tersebut. Sehingga, pihaknya dapat memberikan sanksi pada paslon nomor urut 1.

"Tidak ada aturan secara khusus. Kecuali kalau panitia pelaksana sendiri yang membuat aturan khususnya, yah silahkan ditindak. Kalau secara undang-undang tidak ada," ucap Razaki.(*)

Penulis: Anne Maria
Editor:
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved