Kalau Anak Gadisnya Sudah Tidak Perawan, Bunganya Akan Layu

“Kalau anak perawan itu tidak gadis lagi, maka rangkaian bunganya akan layu,” begitu kata Raidi Bin Papung

Kalau Anak Gadisnya Sudah Tidak Perawan, Bunganya Akan Layu
Kompas.com/ MUHAMAD SYAHRI ROMDHON
Kepala Desa, istri perangkat desa, sesepuh, pengantin gadis, dan perjaka ini, menggelar kirab Ngarot, dengan mengitari Desa Lelea, Kecamatan Lelea, Kabupaten Indramayu, Rabu (25/11/2015). 

Dengan pengeras suara, Suparno menyebut sederet istilah yang menjadi urutan barisan dalam kirab Ngarot. Barisan pertama diisi oleh Kuwu dan Kuwu Biang (istri kuwu), diikuti Ewena Pamong (istri-istri pamong atau perangkats desa), Cuwene Ngarot (pengantin Ngarot wanita), Jidur (kesenian tradisional berupa jidur, terompet, gitar, krecek, dan lainnya), Pamong Laki (perangkat desa lelaki), Bujang Ngarot (pengantin pria ngarot), Reog (kesenian reog), Lembaga Desa (LPM/ BPD/ dan lainnya), dan diakhiri kesenian genjring.

“Iring-iringan ini dinamai kirab Ngarot. Mereka berkeliling Desa Lelea, berputar di tiap titik perbatasan desa, dan berakhir di kantor balai desa Lelea. Di sini lah, kami menggelar upacara Ngarot, yakni pemerintah dan sesepuh desa menitipkan kepada para pengantin gadis dan perjaka, bibit padi unggulan, air, pupuk, pacul, dan sejumlah peralatan pertanian lainnya,” katanya di sela aktivitas.

Pemberian perangkat pertanian ini sebagai simbol upaya untuk melestarikan tradisi yang sudah dilahirkan secara turun temurun. Para gadis dan perjaka ini diharapkan dapat meneruskan, dan memanfaatkan tanah Kasinoman seluas sekitar 2,6 hektar peninggalan Ki Buyut Kapol, pendiri desa setempat sekitar tahun 1600-an.

“Upacara tradisional masyarakat Lelea menjelang musim tanam inilah yang dimaksudkan Ngarot. Bahkan hasil bumi dari proses pertanian di tanah Kasinoman tersebut, akan digunakan kembali untuk tradisi Ngarot dari tahun ke tahun,” katanya.

Tak jauh dari rumah kepala desa, sejak pagi hari, Sutami (45), warga Desa Lelea, sudah terlihat sibuk merias dua orang gadis, Umiyati (18) dan Salsa Nirmala (12).

Meski bukan sanak keluarga, Sutami dengan senang hati menyusun mahkota bunga di dua kepala gadis itu. Tak hanya tahun ini, ia setia merias sejumlah gadis tetangganya, dari tahun ke tahun.

“Saya pernah jadi pengantin Ngarot, waktu usia 13 tahun. Saat itu, setelah kirab, rombongan Ngarot langsung menuju sawah peninggalan. Sebagian pengantin pria memacul tanah, dan sebagian pengantin gadis langsung menyemai bibit padi,” kenangnya.

Tak hanya itu, Sutami juga menceritakan sejumlah perbedaan upacara ngarot lainnya. Dahulu, seluruh bunga yang digunakan untuk mahkota asli. Tapi sejak sekitar 20 tahun lalu, sebagian bunga lainya adalah buatan dari kertas.

Meski demikian, Sutami serta warga setempat mengaku akan berupaya terus melestarikan tradisi Ngarot hingga anak cucunya.

Editor: nandrson
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved