Breaking News:

Ini Kronologi Jatuhnya AirAsia QZ8501 Jatuh ke Laut

Atas kerusakan ini, pilot melakukan tindakan sesuai prosedur Electronic Centralized Aircraft Monitoring (ECAM), kemudian problemnya hilang dan pilot

Editor:
Kompas/Ihsanuddin
Bagian ekor pesawat AirAsia QZ8501 di atas kapal Crest Onyx milik SKK Migas, di Selat Karimata, Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah, Sabtu (10/1/2015). 

"Pengendalian secara manual ini yang menyebabkan kondisi pesawat masuk ke dalam upset condition dan stall hingga akhir rekaman FDR," ujar Nurcahyo.

Dalam kondisi stall itulah, pesawat berguling enam derajat per detik hingga 54 derajat ke kiri.

Saat itu pesawat masih dapat dikendalikan, namun ada input yang kemudian membuat pesawat naik ke atas.

"Hidung pesawat naik ke atas dengan sudut tertinggi 40 derajat. Ini satu kondisi di luar batasan terbang dan masuklah pesawat ke kondisi kehilangan daya angkat atau stall. Kondisi ini sudah di luar kemampuan pilot untuk recover," katanya.

Investigasi kemudian dilakukan pada catatan perawatan pesawat. Dalam 12 bulan terakhir, KNKT menemukan 23 gangguan terkait sistem RTLU di 2014.

"Hal ini diawali oleh retakan solder pada electronic module pada RTLU," ujar Nurcahyo.

KNKT menilai sistem perawatan pesawat tak menggunakan teknologi semestinya, sehingga perbaikan pada pesawat terbang menjadi tidak maksimal.

Puing-puing pesawat QZ8501 jenis Airbus 320 yang membawa 155 penumpang dan tujuh orang kru itu ditemukan dua hari kemudian tersebar di Laut Jawa.(Utami Diah Kusumawati/Anggi Kusumadewi/CNN)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved