Breaking News:

KNKT: AirAsia QZ8501 Alami Stall Berkepanjangan Lalu Jatuh ke Laut

Arus listrik putus, menyebabkan autopilot disengage, flight control logic berubah dari normal law ke alternate law. Kondisi ini mengakibatkan pesawat

Kompas/Ihsanuddin
Ekor pesawat AirAsia QZ8501 yang berhasil diangkat ke kapal Crest Onyx untuk selanjutnya dibawa ke Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah, Sabtu (10/1/2015). 

BATAM.TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Hasil investigasi Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) menyatakan pesawat AirAsia QZ8501 Surabaya-Singapura yang ditemukan jatuh ke laut pada Desember 2014, mengalami stall berkepanjangan.

“Arus listrik putus, menyebabkan autopilot disengage, flight control logic berubah dari normal law ke alternate law. Kondisi ini mengakibatkan pesawat berguling (roll) mencapai sudut 54 derajat,” kata Kepala Subkomite Kecelakaan Udara KNKT Kapten Nurcahyo Utomo dalam konferensi pers di Gedung Kementerian perhubungan, Jakarta, Selasa (1/12/2015).

“Pengendalian pesawat selanjutnya secara manual pada alternate law oleh awak pesawat telah menempatkan pesawat dalam kondisi ‘upset’ dan ‘stall’ secara berkepanjangan sehingga berada di luar batas-batas penerbangan yang dapat dikendalikan oleh awak pesawat,” ujar Tatang.

Stall ialah kondisi ketika pesawat kehilangan daya untuk terbang akibat aliran udara pada sayap terlalu lambat.

Analisis mengenai kondisi QZ8501 yang mengalami stall sebelumnya telah dikemukakan oleh Gerry Soejatman, pakar penerbangan dan investigator swasta kasus kecelakaan pesawat.

“Pada kasus AirAsia, pesawat naik, lalu jatuh. Kemungkinan bagian belakang bawah pesawat lebih dulu menyentuh permukaan laut,” katanya.

Menurut Gerry yang pernah membantu rekannya menyelidiki kecelakaan Air France 447 yang jatuh ke Samudra Atlantik pada 1 Juni 2009, QZ8501 tidak jatuh ke laut dalam posisi menukik dengan hidung pesawat lebih dulu menyentuh air laut.

Hal tersebut terlihat dari kondisi bangkai pesawat yang ditemukan. QZ8501 ditemukan di dasar laut tidak seluruhnya dalam serpihan kecil.

Bagian ekor dan badan pesawat masih tampak utuh meski terpotong dalam beberapa bagian. Potongan-potongan yang ditemukan pun cukup besar, tak pecah berkeping-keping.

Pada AirAsia QZ8501, stall warning sempat berbunyi sebelum pesawat jatuh ke laut, dan pilot kesulitan mengembalikan pesawat ke kondisi normal atau recover.

AirAsia QZ8501 jenis Airbus A320 hilang kontak di sekitar Selat Karimata pada 28 Desember 2014. Puing-puing pesawat yang membawa 155 penumpang dan tujuh orang kru itu ditemukan dua hari kemudian tersebar di Laut Jawa.(CNN)

Editor:
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved