Pemko dan BP Batam Kecolongan, Investor Kabur Meninggalkan Ratusan Karyawannya

Sekitar 200 karyawan tidak menerima gaji selama tiga bulan terakhir. Nasib mereka juga kian tak jelas karena bos perusahaan sudah kabur ke Kanada.

Pemko dan BP Batam Kecolongan, Investor Kabur Meninggalkan Ratusan Karyawannya
Istimewa
Ilustrasi pekerja 

BATAM.TRIBUNNEWS.COM, BATAM - Pemerintah Kota Batam dan Badan Pengusahaan (BP) Kawasan kecolongan lagi. Investor kabur diam-diam dan meninggalkan 'bom waktu' bagi ratusan pekerjanya. Kali ini terjadi pada PT Dhiva Sarana Metal yang berlokasi di Punggur, Batam.

Sekitar 200 karyawan tidak menerima gaji selama tiga bulan terakhir. Nasib mereka juga kian tak jelas karena bos perusahaan sudah kabur ke Kanada.

Bahkan, pimpinan perusahaan yang diketahui bernama Richard Setiawan itu memiliki banyak utang kepada pihak lain dan tidak terselesaikan. Jumlahnya mencapai triliunan rupiah.

Puncak kekecewaan, puluhan karyawan PT Dhiva Sarana Metal menggelar aksi unjuk rasa di halaman gedung DPRD Batam, Selasa (31/3), sekitar pukul 10.30 WIB.

Sekretaris Pimpinan Unit Kerja (PUK) serikat pekerja, Juliyanto mengatakan, kehadiran mereka ke kantor wakil rakyat itu ingin meminta kejelasan DPRD, kapan rapat dengar pendapat (RDP) terkait status pekerja dan permasalahan dengan manajemen perusahaan digelar.

"Kedatangan kami ke sini untuk memperjelas kapan diadakan RDP. Kalau saya sudah beberapa kali datang ke sini sejak Februari, tapi kalau dengan kawan-kawan baru hari ini," ucap Juliyanto.

Kasus kaburnya investor dari Batam dan meninggalkan persoalan terkait hak-hak karyawan bukan kali ini saja terjadi. Kejadian serupa sudah empat kali terjadi setidaknya dalam kurun waktu dua tahun terakhir.

Sebelumnya, para pekerja PT Sun Creation International (SCI) Batam Centre juga terkatung-katung nasibnya karena investor WNA kabur.

Bahkan para pekerja sempat berniat menjual mesin-mesin yang ditinggalkannya untuk memenuhi hak-hak pesangonnya. Sayang, hal itu pun tak mudah terlaksana.

Dalam kasus di PT Dhiva, Juliyanto mengatakan, permasalahan di perusahaannya itu memuncak sejak awal Januari 2015 lalu. Sekitar 200 pekerja di perusahaan yang bergerak di bidang perpipaan itu tak lagi mendapat upah atas pekerjaannya. Pasalnya pemilik perusahaan meninggalkan perusahaan dan dikabarkan berada di Kanada.

Halaman
1234
Penulis:
Editor:
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved