Harga Cabai di Bintan Rp80 Ribu per Kg, Pembeli Pilih Menahan Diri
“Kita itu sebenarnya suka menjual yang murah-murah saja, cepat larisnya. Kalau mahal, pembeli lari, stok bisa membusuk, rugilah kita," katanya
BATAM.TRIBUNNEWS.COM, BINTAN - Warga Kijang, Bintan Timur mengeluhkan kelangkaan cabai merah di pasaran.
Selain stok menipis, harga jualnya pun melangit.
Di sejumlah Lapak pedagang, cabai merah memang tampak dijual terbatas. Harganya, melonjak dua kali lipat dari harga normal.
“Cabai merah per kilo Rp 80 ribu, biasanya Rp50 ribu per kilo, naiknya hampir dua kali lipat dari biasa,” kata Maliah, pengunjung Pasar Barek Motor Kijang, Senin (4/1/2016).
Ibu dua anak ini mengaku biasa membeli dalam takaran kilo untuk persedian di rumah.
Karena naik, dia membatasi pembelian cabai merah hanya setengah kilo saja.
“Beli setengah saja, atur dulu penggunaannya di rumah,” katanya.
Pedagang di Lapak depan Pasar Barek Motor, Sarso mengaku, kenaikan harga cabe yang tinggi disebabkan stok menipis. Sementara distribusi cabe dari luar Kijang, belum masuk.
Selama ini cabai yang ada di Bintan disuplai dari Medan dan Jakarta.
Sarso mengaku cukup khawatir dengan kondisi ini, pasalnya kelangkaan cabe ini justru terjadi saat permintaan tinggi.
Hal senada diungkapkan Ridwan, pedagang lain di Pasar Barek Motor.
Dia mengatakan, sulit mengharapkan pergerakan uang di tengah harga pasaran melangit.
Pasalnya, daya beli masyarakat langsung turun.
“Kita itu sebenarnya suka menjual yang murah-murah saja, cepat larisnya.
Kalau mahal, pembeli lari, stok bisa membusuk, rugilah kita, modalnya sedikit, sementara untungnya paling Rp 2000 hingga Rp 3000 per kilogram,” kata dia.
Berbeda dengan cabai, komoditas sayur mayur relatif stabil.
Pasalnya, distribusinya langsung dari suplier lokal. Harga pasarannya pun masih ditekan sehingga tidak memberatkan pembeli.(*)