"Dana IMTA Harusnya untuk Sertifikasi Keahlian Pekerja bukan Pelatihan Menjahit dan Potong Rumput"

Sebagian pemanfaatan dana Izin Mempekerjakan Tenaga Kerja Asing (IMTA) di Batam masih tidak tepat sasaran.

tribunnews batam/ian pertanian
Sejumlah Pencaker melihat lowongan kerja (loker) di Mading Pujasera Kawasan Industri Batamindo, Batam, Rabu (10/2/2016). 

BATAM.TRIBUNNEWS.COM, BATAM-‎ Sebagian pemanfaatan dana Izin Mempekerjakan Tenaga Kerja Asing (IMTA) di Batam masih tidak tepat sasaran.

Hal itu seperti yang dikemukakan Ketua Komisi IV DPRD Batam Riky Indrakari.

Menurutnya, dilihat dari program Pemko tahun 2016, Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) masih memasukan pelatihan menjahit dan pelatihan potong rambut dari dana IMTA.

‎Padahal menurut Riky, seharusnya pemanfaatan dana IMTA untuk keterampilan calon tenaga kerja Batam, lebih mengarah pada pelatihan di sektor-sektor tertentu.

Diantaranya, sektor industri, parawisata dan lainnya, yang sesuai dengan pertumbuhan industri di Batam dalam rangkan menyambut Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).

Riky meminta agar semua program pelatihan tenaga kerja yang menggunakan dana IMTA disesuaikan dengan kebutuhan MEA.

Selain itu, ia pun meminta agar dana tersebut dipakai untuk program sertifikasi.

"Pemanfaatan dana IMTA sekarang masih belum maksimal. Harusnya pelatihan yang dibuat oleh Disnaker itu mendukung sertifikasi buruh untuk industri, parawisata, shipyard,"harapnya.

Dia mengkritisi, dana IMTA bukan digunakan seperti sekarang untuk pelatihan menjahit dan potong rumput.

"Bukan kayak sekarang. Masa pelatihan menjahit, potong rambut, termasuk kursus Bahasa Inggris pun dimasukan dalam program," kritiknya.

Halaman
12
Penulis: Anne Maria
Editor:
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved