Panama Papers jadi 'Harta Karun' Baru Bagi Indonesia untuk Kejar Target Pajak

Panama Papers ibarat harta karun bagi pemerintah dan aparat pajak.

Panama Papers jadi 'Harta Karun' Baru Bagi Indonesia untuk Kejar Target Pajak
Panamapapers.sueddeutsche.de
Halaman muka situs Panama Papers yang membocorkan data korupsi pemimpin dan tokoh dunia. 

BATAM.TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA- Panama Papers ibarat harta karun bagi pemerintah dan aparat pajak.

Sebab, data-data yang terpapar di dalam dokumen rahasia milik perusahaan pengelola investasi asal Panama, Mossack Fonseca, itu mengungkap potensi baru pajak.

Sebanyak 800 pengusaha Indonesia masuk dalam daftar klien Mossack Fonseca.

Mereka adalah taipan dan pebisnis Indonesia yang mendirikan perusahaan dengan tujuan tertentu atau special purpose vihicle (SPV) di negara surga pajak (tax heaven).

Beberapa pengusaha yang disebut-sebut dalam Panama Papers antara lain pemilik Lippo Group James Riady, maupun dua pemilik Grup Saratoga, Sandiaga Uno serta Edwin Soeryadjaya.

Direktur PT Indofood Sukses Makmur Franky Welirang juga tercatat masuk di data ini.

Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro menyatakan, isi Panama Papers berbeda dengan data yang dikantongi pemerintah.

Oleh karena itu, Bambang menyarankan Direktorat Jenderal Pajak menelusuri data Panama Papers.

"Kami akan lihat apakah datanya valid, kemudian kami akan cek konsistensinya dengan data kami," ungkapnya, Selasa (5/4/2016).

Saat ini pemerintah mengklaim telah mengantongi data 6.000 warga negara Indonesia yang memiliki rekening di luar negeri.

Halaman
1234
Editor:
Sumber: Kontan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved