Ekonom Emil Salim Dukung Reklamasi Teluk Jakarta karena Bisa Saingi Singapura

Pengamat ekonomi dari Universitas Indonesia Emil Salim mendukung penuh reklamasi di pantai utara Jakarta.

Ekonom Emil Salim Dukung Reklamasi Teluk Jakarta karena Bisa Saingi Singapura
PRESIDENTIAL PALACE/AGUS SUPARTO
Aktivitas reklamasi menggunakan alat berat terlihat melalui pantauan udara terus berlangsung di Pulau G yang terletak di bibir Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara, Kamis (14/4/2016). 

BATAM.TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pengamat ekonomi dari Universitas Indonesia Emil Salim mendukung penuh reklamasi di pantai utara Jakarta.

Alasannya secara geografis, pulau Jawa Utara bisa menjadi pelabuhan tersibuk seperti Singapura.

Emil memaparkan di 2030, pelabuhan di Singapura sudah penuh.

Hal itu bisa dimanfaatkan oleh Jawa Utara dengan adanya reklamasi menyambut perdagangan yang berasal dari Samudra Hindia dan Pasifik.

"Kalau ada reklamasi, nanti Jawa bisa menjadi Singapura kedua," ujar Emil di Universitas Atma Jaya, Jakarta, Senin (18/4/2016).

Emil memaparkan kapasitas pelabuhan Singapura terbatas.

Jika tidak cepat dimanfaatkan, maka kesempatan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dari sektor perdagangan dan perkapalan akan terus digarap negara tetangga.

"Kok kita tidak manfaatkan. Singapura lahannya terbatas, bayangkan 2030 babak belur penuh sesak Singapura," kata Emil.

Dalam membangun reklamasi, Emil meminta pengembang properti yakni Podomoro jangan menggunakan karang yang berasal dari pulau Seribu untuk menambah tanah.

Menurut Emil cara efektif tanpa harus merusak sumber daya alam memakai lumpur.

"Muncul Podomoro, dia menggali karang kepulauan Seribu untuk menambah teluk itu. Jangan kau ambil karang, kau ambil lumpur dari sungai, sungai mengalir," kata Emil.

Emil menambahkan, tanah bekas lumpur dari sungai-sungai akan terus bertambah.

Sedangkan untuk menahan air laut yang naik harus dibuatkan tanggul di wilayah lahan reklamasi.

"Laut naik, lumpur harus turun, bangun tanggul di laut, Sea Wall, supaya air laut tidak naik, tidak menahan lumpur masuk ke kolam Jawa," papar Emil. (kompas.com/Adiatmaputra Fajar Pratama)

Editor:
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved