"Kejahatanku? Jurnalisme Investigasi". Sejak 1992, Ada 1.189 Jurnalis Dibunuh karena Pekerjaannya

Wartawan investigasi asal Azerbaijan, Khadija Ismayilova,mengajak semua orang mendedikasikan diri bagi perjuangan membela kebebasan pers dan keadilan.

kompas.com/Jennifer Sidharta
Foto Khadija diperlihatkan karena penerima penghargaan kebebasan pers Guillermo Cano dari UNESCO tersebut masih dipenjara di Azerbaijan ketika secara resmi hadiah tersebut diberikan pada perayaan Hari Kebebasan Pers Dunia (WPFD) 2016. 

BATAM.TRIBUNNEWS.COM, HELSINKI - Dalam suratnya yang dibacakan pada penerimaan penghargaan kebebasan pers Guillarmo Cano, wartawan investigasi asal Azerbaijan, Khadija Ismayilova, mengajak semua orang mendedikasikan diri bagi perjuangan membela kebebasan pers dan keadilan.

Khadija diwakili Ibunya dalam menerima hadiah dari UNESCO tersebut dalam rangka Hari Kebebasan Pers Dunia (WPFD) di Helsinki (3/05/2016) lantaran ia masih dipenjara.

"Kejahatanku? Jurnalisme investigasi," kata Khadija melalui suratnya.

Dia menjelaskan ia dipenjara karena membongkar kasus korupsi terkait Presiden Ilham Aliyev dan keluarganya.

Pada 2015, pengadilan menghukumnya tujuh setengah tahun penjara, walaupun banyak pihak meragukan saksi dan bukti yang dihadirkan.

Namun, bagi Khadija di penjara tidak berarti pemerintah berhasil membungkamnya.

"Saya tetap hidup untuk memperjuangkan keadilan, tak seperti rekan kerja sekaligus teman baikku Elma," katanya.

Elmar Huseynov, editor majalah hak asasi manusia "The Monitor" ditembak mati di depan rumahnya pada 2 Maret 2005. Istri dan anaknya ada di dalam ketika ia ditembak.

Elmar bukan wartawan pertama maupun terakhir yang dibunuh karena beritanya tidak disukai pihak tertentu.

Komite untuk Melindungi Jurnalis (CPJ) mencatat secara global 1.189 jurnalis dibunuh sejak 1992. Sepuluh di antaranya adalah wartawan Indonesia.

Halaman
12
Editor:
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved