Upaya Kudeta di Turki

Turki Klaim Anak 12 Tahun jadi Pelaku Bom Bunuh Diri Pesta Pernikahan yang Tewaskan 51 Warga

Pemerintah Turki menyebut pelaku bom bunuh diri di sebuah pesta perkawinan di kota Gaziantep adalah anak-anak berusia 12-14 tahun.

Turki Klaim Anak 12 Tahun jadi Pelaku Bom Bunuh Diri Pesta Pernikahan yang Tewaskan 51 Warga
daily mail
Suasana duka saat bom meledak di sebuah pesta pernikahan di Turki. Dugaan sementara akibat bom bunuh diri. 

BATAM.TRIBUNNEWS.COM, ANKARA— Pemerintah Turki menyebut pelaku bom bunuh diri di sebuah pesta perkawinan di kota Gaziantep pada Sabtu (20/8/2016) adalah anak-anak berusia 12-14 tahun.

"Terdapat indikasi kuat ISIS menggunakan anak-anak berusia antara 12 dan 14 tahun untuk melakukan bom bunuh diri," kata Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dalam jumpa pers, Minggu (21/8/2016).

Serangan teror itu terjadi di kawasan Beybahce, distrik Sahinbey, provinsi Gaziantep.

Aksi yang dilakukan seorang anak laki-laki ini menewaskan sekitar 51 orang dan melukai 70 orang lainnya.

Dalam penyelidikan awal, polisi menemukan sisa-sisa rompi bom bunuh diri.

Kedua pengantin terluka akibat serangan bom dalam pesta yang digelar di jalanan itu. Sebagian besar undangan adalah warga dari provinsi wilayah timur Turki, seperti Siirt dan Van.

Pengebom bunuh diri dikabarkan menyelinap dengan menyamar sebagai salah seorang tamu sebelum meledakkan diri.

"Tak ada bedanya antara PKK (Partai Pekerja Kurdistan), FETO (Organisasi Teror Fethullah), dan Daesh. Semua adalah teroris," tambah Erdogan yang menggunakan istilah bahasa Arab untuk ISIS.

Sebelumnya, Erdogan mengatakan, aksi bom bunuh diri ini dilakukan untuk memicu perpecahan antara etnis Arab, Kurdi, dan Turki di negeri itu.

"Mereka yang tak bisa mengalahkan Turki melakukan provokasi dengan cara memicu perpecahan antar-etnis dan kesensitifan sektarian. Namun, mereka tak akan berhasil," kata Erdogan.

Sementara itu, prosesi pemakaman korban tewas dalam tragedi di Gaziantep itu sudah digelar pada Minggu.

Namun, sejumlah keluarga harus menunda pemakaman karena jasad keluarga mereka hancur berkeping-keping dan membutuhkan tes DNA untuk memastikan identitas mereka. (kompas.com)

Editor:
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved