Jumat, 10 April 2026

Pelajar SD di Karimun Bakal Ada Pelajaran Bahasa Inggris, Ini Kata Bupati

Dinas Pendidikan Kabupaten Karimun akan menambahkan mata pelajaran muatan lokal di kurikulum SD, yakni Bahasa Inggris dan Budaya Melayu

tribunnews batam/rachta yahya
Bupati Karimun, Aunur Rafiq memberikan ucapan selamat kepada Rohid, juara 1 tilawah tuna netra putra MTQ Kepri 2016 saat acara penyambutan di rumah dinas, Sabtu (28/5/2016). 

BATAM.TRIBUNNEWS.COM, KARIMUN - Dinas Pendidikan Kabupaten Karimun akan menambahkan mata pelajaran muatan lokal di kurikulum sekolah.

Selain pelajaran budaya melayu, setiap Sekolah Dasar (SD) harus bisa memberikan pelajaran bahasa Inggris dasar.

Hal tersebut dikatakan Bupati Karimun, Aunur Rafiq pasca pertemuan dengan para kepala Sekolah Dasar di ruang rapat Cempaka Putih Pemkab Karimun.

Rafiq menyebutkan jika pemberlakuan mata pelajaran muatan lokal berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Kepri, Nurdin Basirun.

"Ada hal bagus yang akan dibuat Disdik. Di antaranya muatan lokal bahasa dan budaya Melayu serta pelajaran budi pekerti.
Selain itu kita inginkan sekolah dasar berinovatif memberikan pelajaran bahasa inggris.

Sehingga siswa bisa berbahasa Inggris yang dimulai dari sekolah. Ini kita minta pada kepala sekolah SD untuk memulainya," kata Rafiq yang dijumpai di rumah dinasnya, Jumat (16/9/2016).

Pentingnya bahasa inggris sudah terlihat dari perkembangan di Karimun saat ini. Mulai banyaknya perusahaan-perusahaan yang berdiri di Karimun mengharuskan para pencari kerja memiliki standardisasi yang dibutuhkan oleh perusahaan.

Selain itu Rafiq menekankan pentingnya pendidikan agama bagi seluruh siswa. Dengan begitu maka Azam dan Taqwa yang merupakan landasan Karimun dapat ditanamkan kepada generasi muda sejak masa pendidikan.

Orang nomor satu di Karimun tersebut mencontohkan siswa SD yang beragama Islam harus melanjutkan pembelajaran di TPQ ke tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP). Begitu juga dengan siswa yang beragama Kristen Hindu, Budha dan Konghucu harus diberikan mata pelajaran khusus agama mereka.

"Sekolah bisa memanfaatkan guru-guru bantu yang ada di sekolah. Itu tegantung sekokah masing-masing dalam penggaplikasiannya. Sehingga azam dan taqwa dapat diwujudkan," ujar Rafiq.

Menerapkan kedisiplinan dan budaya bersih juga menjadi pembahasan dalam rapat tersebut. Para siswa diminta membersihkan lingkungan sekolah sekitar 10 menit di awal jam sekolah.

"Jika ada siswa yang tidak taat maka sekolah memberi hukuman berupa pembinaan dan bukan hukuman fisik. Seperti memberikan pekerjaan rumah atau tugas sekolah lain," tambah Rafiq. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved