Aksi Protes di Amerika Serikat Makin Brutal, Korban Tewas Mulai Berjatuhan

Aksi protes di Charlotte, North Carolina, Amerika Serikat, memasuki hari kedua, Rabu (21/9/2016), semakin tak terkendali.

Aksi Protes di Amerika Serikat Makin Brutal, Korban Tewas Mulai Berjatuhan
Charlotte Observer
Warga dan polisi di Charlotte, North Carolina, AS, membopong salah satu rekannya yang terluka dalam aksi protes yang berubah menjadi kekerasan mematikan pada Rabu (21/9/2016) tengah malam waktu setempat. 

BATAM.TRIBUNNEWS.COM, CHARLOTTE- Aksi protes di Charlotte, North Carolina, Amerika Serikat, memasuki hari kedua, Rabu (21/9/2016), semakin tak terkendali.

Korban tewas pun mulai berjatuhan.

Polisi antihuru-hara menembakkan gas air mata dan peluru karet untuk menghalau massa yang semakin agresif dan mengarah kepada kekerasan.

Kepala Kepolisian Charlotte, Kerr Putney, mengonfirmasi bahwa ada satu demonstran tewas akibat ditembak orang tak dikenal.

Kantor berita Agence France-Presse melaporkan, Putney tidak mengidentifikasi korban yang tewas dalam aksi pada Rabu malam itu dan juga tidak menyebutkan asal tembakan.

Massa warga Charlotte itu memprotes penembakan mematikan oleh polisi terhadap seorang warga kulit hitam, Keith Lamont Scott, Selasa (20/9/2016).

Polisi yang menembak Scott, pria berusia 43 tahun itu, bernama Brentley Vinson (26), juga seorang warga kulit gelap, seperti dilaporkan Charlotte Observer.

Insiden penembakan oleh polisi merupakan yang ketiga kalinya dalam tiga tahun terakhir.

Dalam aksi massa yang berlangsung berlangsung Rabu (21/9/2016) tengan malam waktu setempat atau Kamis WIB, situasi memanas sehingga polisi menembakkan gas air mata.

Rabu malam itu demonstran memblokade persimpangan jalan di pusat kota. Suasana yang memanas berubah menjadi kerusuhan sehingga satu orang tewas.

Di tengah panasnya situasi, perwakilan Nations of Islam, BJ Murphy, meminta warga kulit hitam di North Carolina melakukan boikot ekonomi.

Nations of Islam adalah organisasi keagamaan dan politik kaum Afrika-Amerika di AS. Keith Lamont Scott, korban penembakan polisi, berdarah Afrika-Amerika.

Massa demonstran sudah mulai berkumpul sejak Selasa (20/9/2016) malam waktu setempat di dekat apartemen di Charlotte, yang menjadi lokasi penembakan terhadap Scott.

Mereka membawa plakat atau spanduk bertuliskan "Black Lives Matter" dan berteriak "No justice, no peace!" seperti dilaporkan televisi setempat. (kompas.com)

Editor:
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved