Lagi, Jaksa Dituding Memeras. Terjadi di Karimun. Begini Ceritanya

Kamis (21/9) kemarin, waktu saya makan sama istri, ada tiga orang datang langsung narik tangan saya. Mereka bilang kenapa tidak menjumpai jaksa?

Lagi, Jaksa Dituding Memeras. Terjadi di Karimun. Begini Ceritanya
Istimewa
ilustrasi pemerasan 

BATAM TRIBUNNEWS.COM, KARIMUN - Baru kemarin Kepala Kejaksaan Tinggi Kepri Andar Perdana memerintahkan pemeriksaan terhadap staf kejaksaan yang nakal, kini tuduhan miring kembali menerpa korps Adhyaksa.

Seorang Jaksa Fungsional Kejaksaan Negeri Tanjungbalai Karimun dituduh melakukan pemerasan terhadap keluarga seorang tahanan narkoba bernama Okto Sebastian.

Menurut Heri Soecipto, kakak sepupu Okto, dugaan pemerasan dilakukan oleh jaksa bernama Ramdani terhadap Diah Hadianti yang merupakan orangtua Okto.

pemerasan terhadap Diah tersebut setelah Okto divonis oleh Pengadilan Negeri Karimun pada pertengahan Juli lalu dengan hukuman penjara selama dua tahun.

"Setelah vonis, Bu Lek (Diah) cerita sama saya, ia dihubungi oleh jaksa Ramdani, minta uang. Saya bilang, kan sudah vonis jadi biarkan saja. Bu Lek ditelepon itu bukan sekali saja," kata Heri, Selasa (27/9).

Heri tak habis pikir atas tindakan yang dilakukan pada keluarganya. Selain terhadap Diah, Ia sendiri juga mengaku mendapat teror.

Ia pernah dijumpai oleh beberapa orang yang mengatakan dirinya harus menjumpai Ramdani.

"Kamis (21/9) kemarin, waktu saya makan sama istri, ada tiga orang datang langsung narik tangan saya. Mereka bilang kenapa tidak menjumpai jaksa? Minggu malam juga ada tiga orang bilang gitu," jelasnya.

Disebutkannya, pada saat proses persidangan masih berlangsung, Ramdani juga pernah meminta uang dalam jumlah yang cukup besar untuk membantu meringankan vonis Okto.

Bahkan Heri memiliki bukti rekaman pembicaraan antara dia dan Ramdani.

"Saya punya rekamannya. Waktu dia datang saya sempat aktifkan rekaman di handphone," ujarnya.

Jaksa Ramdani yang dijumpai di ruangannya membantah telah meminta sejumlah uang kepada pihak keluarga Okto.

Ia mengaku memang berkoordinasi dengan polisi untuk dapat menangkap seseorang berstatus DPO bernama Heri Gani yang diduga berhubungan dengan Okto.

"Nggak ada saya minta-minta. Nalar sajalah, masa sudah sidang (minta). Saya diperintah oleh Pak Ketua (Ketua PN Karimun, Fathul Mujib) yang mendengar Heri Gani ada di Balai. Jadi saya koordinasi sama Polsek Karimun untuk nyari Heri Gani. Saya tahu keluarga Okto gerah sama saya," bantahnya.

Penulis: Elhadif Putra
Editor: Alfian Zainal
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved