AS Hentikan Penjualan 26.000 Senjata Serbu ke Filipina karena Hak Asasi Manusia

Amerika Serikat menghentikan penjualan 26.000 pucuk senapan serbu kepada Filipina.

AS Hentikan Penjualan 26.000 Senjata Serbu ke Filipina karena Hak Asasi Manusia
tribunnews batam/istimewa
Contoh senapan serbu AR-15 

Bulan lalu, Duterte mengatakan, orang tidak bersalah dan anak-anak mengalami "collateral damage" dalam perang narkoba karena polisi memakai senjata otomatis ketika menghadapi penjahat.

Dalam wawancara dengan Al Jazeera, Duterte memberi contoh hipotetis seorang petugas menggunakan senapan M16 ketika berhadapan dengan gangster yang memegang pistol.

"Ketika mereka bertemu, mereka terlibat baku tembak. Polisi dengan M16, dan salah satunya meledak, brrr, dan [dia] menghabisi 1.000 orang di sana dan mereka tewas."

Lebih dari 3.000 orang telah tewas dalam operasi polisi atau oleh tersangka warga sehubungan dengan kampanye anti-narkotika sejak Duterte menjadi presiden pada 30 Juni.

Departemen Luar Negeri AS menginformasikan Kongres bahwa penjualan senjata internasional sedang berlangsung.

Cardin akan menentang kesepakatan selama proses pra-notifikasi departemen untuk penjualan 26.000-27.000 pucuk senapan serbu, yakni ingin menghentikan kesepakatan.

Pejabat Departemen Luar Negeri tidak berkomentar. Awal bulan ini, Duterte mengatakan Presiden Barack Obama agar "pergi ke neraka".

Duterte juga mengatakan bahwa AS telah menolak untuk menjual beberapa senjata ke negaranya, tapi dia tidak peduli karena Rusia dan China bersedia menjadi pemasoknya. (kompas.com)

Editor:
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved