Elektabilitas Ahok-Djarot Anjlok, Terungkap Inilah 4 Penyebabnya versi Survei LSI

Hasil survei Lingkaran Survey Indonesia mengungkapkan ada empat penyebab elektabilitas calon petahana DKI Jakarta, Ahok jeblok. Ini rinciannya

TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
Gubernur DKI Jakarta nonaktif Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) menjawab pertanyaan wartawan usai diperiksa Bareskrim Mabes Polri di Gedung Rupatama Mabes Polri, Jakarta, Senin (7/11/2016). 

BATAM. TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Hasil survei yang dilakukan Lingkaran Survey Indonesia (LSI) menyebut ada empat hal yang membuat elektabilitas calon petahana DKI Jakarta, Basuki Tjahja Purnama, terus mengalami penurunan.

Peneliti LSI, Adjie Alfaraby, mengatakan, ada empat hal yang membuat Ahok mengalami penurunan.

Pertama adalah efek ucapannya menyebut surat Al Madiah 51 yang menimbulkan kontroversi hingga melahirkan dugaan penistaan agama.

"Dari permasalahan itu, sebagian besar umat Islam menggelar aksi demo besar-besaran yang menuntut Ahok diperiksa dan diadili," kata Adjie dalam konferensi pers di kantor LSI, Rawamangun, Jakarta Timur, Kamis (10/11/2016).

Selanjutnya kedua adalah, resistensi pemimpin beda agama semakin tinggi, yang disebabkan makin bertambahnya pemilih muslim yang tidak akan memilih pemimpin beda agama.

Menurutnya saat ini, pemilih muslim yang tidak bersedia dipimpin oleh gubernur non Islam sebesar 63,4 persen.

"Angka ini naik dari survey bulan lalu yang hanya 55,6 persen," katanya.

Faktor ketiga yang membuat elektabilitas Ahok semakin menurun adalah tingkat kesukaan pada Ahok. Dalam survei yang dilakukan pada bulan Oktober tercatat 58,2 persen warga yang menyukai sosok Ahok.

"Namun untuk survei di bulan ini, tingkat kesukaan terhadap Ahok sudah di bawah 50 persen, yaitu 48,3 persen," kata Adjie.

Yang keempat, adalah personalitas dan kebijakan Ahok yang membuat elektabilitasnya terus menurun. Pasalnya beberapa warga mulai tidak suka dengan sikap arogan yang tercermin dalam bicara dan gaya kepemimpinannya.

Ditambah kebijakan reklamasi dan penggusuran yang kerap ditonjolkan membuat Ahok semakin tak disukai warganya.

"Bahkan, di masyarakat berkembang pemikiran tak aman jika Ahok tetap menjadi gubernur DKI," katanya.

LSI melakukan survei mulai tanggal 31 Oktober sampai 5 Oktober 2016 di Jakarta. Survei dilakukan secara tatap muka terhadap 440 responden.

Responden dipilih dengan menggunakan metode multistage random sampling. Margin of Error survei ini plus minus 4,8 persen.

Survei ini dibiayai dengan dana sendiri, dan dilengkapi pula dengan kualitatif riset (FDG/focus group discussion, media analisis, dan in depth interview). (*)

Editor:
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved