Kata BI, Pelemahan Rupiah yang Mengagetkan seperti Hari Ini Bisa Ditangkal dengan Jurus Ini

Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara mengungkapkan, pelemahan tersebut tidak terlepas dari faktor eksternal khususnya terkait Donald Trump.

Kata BI, Pelemahan Rupiah yang Mengagetkan seperti Hari Ini Bisa Ditangkal dengan Jurus Ini
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
Petugas memperlihatkan pecahan dolar AS yang akan ditukarkan di salah satu gerai penukaran mata uang asing di Kawasan Blok M, Jakarta 

BATAM.TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA- Pagi ini, Jumat (11/11/2016), nilai tukar rupiah sempat melemah bahkan hingga sempat menembus level Rp 13.800 per dolar AS.

Lalu, bagaimana pendapat Bank Indonesia (BI) selaku otoritas moneter terkait pelemahan tersebut?

Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara mengungkapkan, pelemahan tersebut tidak terlepas dari faktor eksternal khususnya terkait kebijakan presiden terpilih AS Donald Trump.

Dalam beberapa kesempatan, Trump menyatakan bakal melakukan kebijakan proteksionisme dalam perekonomian AS.

Setelah itu, muncul beberapa spekulasi dan analisis mengenai dampak kebijakan proteksionisme AS terhadap perekonomian negara-negara lainnya.

Menurut Mirza, berdasarkan analisis yang bermunculan, negara-negara berkembang atau emerging markets akan sangat terdampak kebijakan itu.

"Analisis-analisis itu menurut kami ada dasarnya, tapi itu buat negara yang sangat berkaitan dengan AS, sehingga pada 8 sampai 9 November 2016 mata uang seperti (peso) Meksiko melemah 7 persen," jelas Mirza di kantornya, Jumat sore.

Mirza berpendapat, pelemahan rupiah bisa ditangkal dengan fundamental ekonomi Indonesia yang baik.

Salah satu rapor baik perekonomian Indonesia yang mendukung fundamental adalah pertumbuhan ekonomi kuartal III yang mencapai 5,02 persen.

Dibandingkan dengan negara-negara lain yang sekawasan, realisasi pertumbuhan ekonomi tersebut masih tergolong baik.

Pasalnya, pertumbuhan ekonomi Singapura tidak sampai 2 persen dan Thailand di bawah 3 persen.

Sehingga, di kawasan ASEAN, hanya dua negara yang mencatat pertumbuhan ekonomi baik, yakni Filipina yang mencatat 6 persen dan Indonesia.

"Defisit transaksi berjalan juga tidak lebih dari 2,5 persen PDB, bahkan 1,8 persen. Jadi suatu angka yang sangat sehat. Dari sisi fundamental Indonesia dalam kondisi yang baik," terang Mirza.
(kompas.com, Sakina Rakhma Diah Setiawan)

Editor:
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved