Teror Bom di Samarinda

Bocah Korban Bom di Samarinda Bercita-Cita Jadi Penjinak Bom

"Ini bukan dendam, hanya tanda bahwa korban ingin berbuat baik kepada orang lain. Padahal, Trinity itu masih anak kecil," kata Arist Merdeka Sirait

Bocah Korban Bom di Samarinda Bercita-Cita Jadi Penjinak Bom
Tribun Kaltim
Ibunda salah satu anak yang menjadi korban ledakan bom di depan Gereja Oikumene menangis. Dalam ledakan bom di depan Gereja Oikumene, Kota Samarinda, Provinsi Kalimantan Timur, Minggu (13/11/2016) pagi, empat anak menjadi korban. 

Laporan: Anjas Pratama

TRIBUNNEWS.COM, SAMARINDA - Korban pengeboman di halaman Gereja Oikumene, Trinity Hutahaya ternyata bercita-cita menjadi penjinak bom.

Trinity mengatakan hal itu saat bertemu Arist Merdeka Sirait dan rombongan KPAI, Selasa (15/11/2016).

"Saat diajak bicara, ia sempat bilang akan membeli petasan, kemudian menjinakkannya karena ingin menjadi penjinak bom," ucap Arist Merdeka Sirait.

Menurut Arist, ini menunjukkan sikap yang bagus, dikarenakan korban tidak menunjukkan dendam, tetapi ingin berbuat hal yang bisa mencegah orang lain menderita hal yang sama.

"Ini bukan dendam, hanya tanda bahwa korban ingin berbuat baik kepada orang lain. Padahal, Trinity itu masih anak kecil," katanya.

Aksi pelemparan bom molotov oleh pria bernama Juanda di Samarinda, Kalimantan Timur, Minggu (13/11/2016), berakibat tewasnya seorang bocah dua tahun, bernama Intan Olivia.

Ia meninggal Senin (14/11/2016) dini hari sekitar pukul 03.45 Wita, setelah menjalani perawatan di RSUD AW Syahranie.

Luka bakar yang cukup parah, membuat bocah malang tersebut tak tertolong.

Sementara korban lainnya yang juga mengalami luka bakar adalah Triniti Hutahaya (4).

Korban lainnya atas nama Alvaro Aurelius (4) dan Anita Kristobel (2), juga masih menjalani perwatan di RSUD Inche Abdoel Moeis.

Editor: Alfian Zainal
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved