Selasa, 21 April 2026

Tragis! Balita Intan Olivia Susul Nenek dan Bibinya yang Tewas Dibegal Sebulan Lalu

Perempuan berkulit putih ini terakhir bertemu Intan tiga pekan lalu. Intan dibawa orangtuanya melayat ke rumah bibinya, Dewi Sartika boru Banjarnahor

Tribun Kaltim
Gambar Intan Olivia (2) ketika masih hidup. Bocah malang ini korban teror bom molotov di Samarinda, Minggu (13/11/2016). 

Nevrianto Hardi Prasetyo

BATAM.TRIBUNNEWS.COM, MEDAN - Intan Olivia Banjarnahor, bocah perempuan usia dua tahun enam bulan, akhirnya meninggal, Senin dinihari.

Intan satu dari empat bocah korban ledakan bom molotov di pekarangan Gereja Oikumene, Kota Samarinda, Provinsi Kalimantan Timur.

Duka menyelimuti keluarga besar Pungaran Banjarnahor, kakek Intan yang tinggal di Jalan Ringroad, Gang Guntur, Medan Sunggal, Kota Medan, Provinsi Sumatera Utara, Senin (14/11/2016).

Tamu-tamu berdatangan menyampaikan ucapan belasungkawa.

Rumah ini ditinggali Agustini Banjarnahor, bibi Intan. Sementara Pungaran memilih terbang ke Samarinda untuk melayat cucunya, Intan.

Agustini meneteskan air mata melihat foto Intan lewat layar ponsel.

Perempuan berkulit putih ini terakhir bertemu Intan tiga pekan lalu. Intan dibawa orangtuanya melayat ke rumah bibinya, Dewi Sartika boru Banjarnahor (34).

Dewi adalah saudara perempuan Anggiat Manumpak Banjarnahor, ayah Intan. Intan menyapa Dewi dengan sebutan namboru, atau bou.

"Ketika Intan datang kemarin kondisinya sehat, hanya badanya hangat karena kangen dengan tantenya (adik ibunya). Begitu di sini, dia (Intan) melihat mediang kakak saya (Dewi). Tapi dia takut, enggak berani. Saat mau dikubur Intan merengek ingin lihat bounya. Ketika jenazah mau dibawa ke dalam mobil, Intan bilang 'dadah Bou. Tenang di surga,'" cerita Agustini kepada Tribun Medan.

Setelah menghadiri pemakaman Dewi di Simalingkar pada 25 Oktober lalu, Intan bersama keluarga besarnya ke Aek Kenopan, Labuhan Batu Utara. Mereka melayat ke rumah opung Intan yang juga meninggal karena sakit.

"Sebulan lalu, kakak saya (Dewi, korban begal, red) meninggal sekitar pukul 20.30 WIB pada Senin (24/10/2016). Hanya berselang beberapa menit, orangtua saya meninggal dunia di kampung karena sakit. Dan sekarang pada hari Senin juga keponakan saya meninggal dunia. Tuhan berat kali cobaan ini, kami kena musibah terus," ratap Agustini.

"Saya bilang Tuhan enggak adil, kenapa buat cobaan bertubi-tubi? Cuma dibilang kakak tadi, sabar dek, Tuhan buat cobaan enggak di batas kemampuan umatnya. Tapi kenapa harus kena keluarga Banjarnahor? Tuhan ampuni kami. Keluarga di sana, Abang harus tabah menghadapi ini," ujar dia.
Dia berharap pelaku bom di pekarangan Gereja Oikumene mendapat hukuman yang berat. Apalagi, perbuatannya telah menewaskan keponakannya yang masih balita.

Kejadian malam yang beruntun ini membuat Agustini sangat sedih. Dalam sebulan ia kehilangan tiga anggota keluarga, yakni ibunya, kakak kandungnya Dewi dan Intan, keponakannya.

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved