Piala AFF 2016

Jelang Lawan Singapura. Alfred Riedl Abaikan Sejarah yang Dicatat Indonesia. Ini Katanya

Buat Riedl, kejayaan tersebut sudah terlalu lama berlalu sehingga tidak relevan lagi untuk dibicarakan

KUKUH WAHYUDI/BOLA
Alfred Riedl memimpin latihan tim nasional Indonesia di Stadion Olahraga Filipina, Bulacan, Filipina, Ju'mat (18/11/2016) sore. 

BATAM.TRIBUNNEWS.COM, MANILA - Pelatih tim nasional Indonesia, Alfred Riedl, mengabaikan kejayaan masa lalu menjelang partai kontra Singapura pada lanjutan Grup A Piala AFF 2016 di Rizal Memorial Stadium, Jumat (25/11/2016).

Stadion ini memiliki nilai sejarah buat tim Garuda. Pada 1991, Indonesia memenangi final SEA Games kontra Thailand sekaligus memastikan medali emas.

Itulah gelar bergengsi terakhir yang diraih Indonesia di cabang sepak bola.

Hanya, buat Riedl, kejayaan tersebut sudah terlalu lama berlalu sehingga tidak relevan lagi untuk dibicarakan.

"Berapa usia Anda pada 1991? Enam tahun? Jadi, jangam bicarakan momen itu lagi," kata Riedl kepada wartawan setelah sesi latihan di Rizal Memorial Stadium, Rabu (23/11/2016).

"Lagi pula, sejarah tidak penting," ucap pria asal Austria itu.

Sikap serupa diusung oleh asisten pelatih Wolfgang Pikal.
Ketika membahas topik tentang sejarah 1991, dia mengatakan, "Saya malah baru mengetahui kita meraih medali emas di sini."

Wajar apabila keduanya tidak mengetahui sejarah tersebut. Pada 1991, Riedl masih menangani timnas Austria.
Sementara saat itu, Pikal tidak terlibat dalam sepakbola karena sempat pensiun sebagai pemain pada usia 22 tahun.(*)

Editor: nandrson
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved