Begini Cara Bea Cukai Batam Amankan Penyelundupan di Selat Malaka

Tingginya arus lalu lintas kapal di wilayah Selat Malaka tak ditampikan juga meningkatkan potensi pelanggaran terhadap UU kepabeanan dan UU bea cukai.

Begini Cara Bea Cukai Batam Amankan Penyelundupan di Selat Malaka
TRIBUNBATAM/EKO SETIAWAN
Empat mobil mewah yang hendak diselundupkan diamankan petugas dari Ditpolair Mabes Polri, Sabtu (19/9/2016) 

BATAM.TRIBUNNEWS.COM, BATAM- Tingginya arus lalu lintas kapal di wilayah Selat Malaka tak ditampikan juga meningkatkan potensi pelanggaran terhadap UU kepabeanan dan UU lain dibawah penegakan hukum bea cukai.

Pihak Bea Cukai pun semakin memperketat pengawasan mengingat kompleksnya modus pelanggaran-pelanggaran yang terjadi selama ini.

Satu di antara bentuk pengawasan yang sudah rutin dilaksanakan yaitu patroli secara terkoordinasi dengan institusi kepabeanan negara lain, yakni jabatan Kastam diraja Malaysia.

Pengawasan yang dibalut dalam bentuk operasi patroli terkoordinasi Kastam Indonesia-Malaysia (Patkor kastima) inipun sudah sering melakukan penangkapan terhadap pelaku pelanggaran.

"Operasi parkor kastima tahun ini merupakan operasi yang ke 22. Kita laksanakan dalam dua tahapan, pertama sekali tanggal 7-21 September 2016. Dan yang kedua dari tanggal 8-22 November 2016. Wilayah operasi ini meliputi sepanjang selat malaka, mulai dari perairan Batam sampai perairan Kuala Langsa, baik teritorial Indonesia maupun Malaysia," ujar Dirjen Bea Cukai, Heru Pambudi di Coastarina, Kamis (24/11/2016) siang.

Ia menjelaskan pada periode pertama, operasi ini sudah melakukan penindakan 12 kali, yaitu 8 kapal penyelundup bawang merah, satu kapal pembawa 51 orang TKI, serta tiga kapal pembawa barang campuran tanpa dilengkapi dokumen PPFTZ-01.

"Untuk bawang yang kita sita sebanyak kurang lebih 147 ton. Dari operasi tahap pertama tahun ini, kita taksir nilai tota barang bukti sebesar Rp 1,393 miliar. Dengan penyelematan potensi kerugian negara sebesar Rp 479 juta," ucap Heru.

Sementara di operasi tahap kedua, mampu melakukan penindakan lebih banyak lagi, dengan pelanggaran yang juga beragam.

"Periode kedua, kami melakukan penindakan sebanyak 20 kali. Dari jumlah itu, 8 kapal ditegah karena memuat barang tanpa dilengkapi dokumen PPFTZ-01,‎ 11 kapal ditegah karena memuat tanpa dilengkapi dokumen kepabeanan. Satu kapal ditindak karena membawa 42 orang TKI," tuturnya.

Dari segi komoditas, barang-barang yang diangkut tanpa dokumen tersebut seperti peralatan elektronik, bahan bangunan, kayu bakau, dan kayu nireh.

Adapula besi, dan bawang merah.

"Nilai total barang bukti ditaksir Rp 2 miliar dengan penyelematan potensi kerugian negara sebesar Rp 622 juta," katanya. (*)

Penulis: Anne Maria
Editor:
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved