Demo di Jakarta

Kapolri Tito Karnavian Mengaku Bingung pada Aksi 212. Ini Sebabnya

Saya sendiri bingung, saat berpatroli pada pukul 17.00 WIB, massa yang jumlahnya jutaan orang itu tiba-tiba hilang seakan diserap oleh bumi.

WARTA KOTA/ALEX SUBAN
Umat Islam melaksanakan salat Jumat saat Aksi Bela Islam III di kawasan silang Monas, Jakarta, Jumat (2/12/2016). Massa aksi menggelar salat Jumat bersama lalu menggelar dzikir dan doa untuk kebaikan bangsa dan negara. 

BATAM.TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian menyatakan bahwa aksi damai 2 Desember 2016membuatnya sempat bingung dan sempat tidak percaya.

Sebab, begitu Salat Jumat selesai pukul 13.00 WIB, massa yang jumlahnya jutaan orang betul-betul pulang dengan damai setelah Salat Jumat.

"Saya sendiri bingung, saat berpatroli pada pukul 17.00 WIB, massa yang jumlahnya jutaan orang itu tiba-tiba hilang seakan diserap oleh bumi," kata Tito di depan Komisi III DPR RI, Senin (5/12/2016) sore.

Meskipun ada sebagian kelompok yang datang ke Bundaran HI setelah aksi selesai, namun hal itu memang sengaja dibiarkan karena jumlahnya tidak banyak dan suasananya sangat damai.

Menurut Tito, tenggat berakhir demo hingga pukul 13.00 WIB adalah permintaan Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF MUI) sendiri.

Kepolisian, kata Tito, sebetulnya menyiapkan kesempatan bagi para peserta aksi hingga pukul 16.00 WIB.

Namun, saat itu pihak GNPF justru ingin jadwal dipercepat hingga Salat Jumat selesai sekitar pukul 13.00 WIB.

Mereka, menurut Tito, mengaku trauma dengan peristiwa 4 November 2016 lalu yang sedikir ternoda oleh bentok pada malam harinya.

Mereka menegaskan, kegiatan mereka murni penyampaian aspirasi terkait kasus hukum terhadap Gubernur nonaktif DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok.

"Mereka tidak ingin seperti peristiwa kemarin. 'Itu akan menodai agama Islam. Kami betul ingin sampaikan aspirasi. Kalau susah pada negara, aspirasi kami sampaikan pada Tuhan'," kata Tito menirukan ucapan perwakilan aksi.

Padahal, lanjut Tito, jika melihat psikologi massa, dengan jumlah yang sebanyak itu, tingkat kerawanan sangat luar biasa tinggi. Sebab, jika ada satu orang saja yang memicu kerusuhan, massa akan sangat sulit dikendalikan.

Oleh sebab itu, pengamanan ekstra diberlakukan Polri. Ini termasuk menyediakan pengeras suara agar mereka tak melakukan orasi menggunakan mobil-mobil komando.

Dengan menyiapkan pengeras suara, maka sumber suara hanya satu dan panggung menjadi magnet pusat komando.

"Jadi kami hadir di sana bukan untuk populer tapi mengendalikan mereka yang sudah berkomitmen dengan kami, yang berdialog dengan mereka. Sehingga semuanya betul-betul berjalan sesuai rencana," imbuhnya.

Sumber: Kompas.com
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved