Cerita Ruminem, Nenek Penambal Ban yang Biasa dengan Cibiran Orang dan Hidup Susah

Suaminya dulu menjadi tukang tambal ban. Ruminem menggantikannya pada 1977 karena melihat suaminya sering sakit-sakitan

Cerita Ruminem, Nenek Penambal Ban yang Biasa dengan Cibiran Orang dan Hidup Susah
kompas.com/Hamzah Arfah
Ruminem (kanan) dengan cekatan melayani permintaan salah satu konsumennya. 

Sebelum pindah di Desa Bulutengger, keduanya sempat merantau ke daerah lain dan menjalani usaha serupa.

"Sempat keliling-keliling tempat di Jawa. Pernah di Jakarta, Surabaya, Ponorogo, Kediri, dan beberapa tempat lain di Jawa. Saat bapaknya sudah mulai tua, dia kemudian mengajak saya kembali ke Lamongan," ujarnya.

Sama seperti Ruminem yang berasal dari keluarga kurang mampu, Sukadi pun hanya berstatus numpang di rumah dan bengkel saat ini. Karena kebaikan dari saudara Sukadi, suami-istri tersebut diperbolehkan tinggal di situ.

"Meski orang desa, saya sendiri tidak punya warisan sawah atau rumah seperti orang lain. Ini aslinya rumah kakak, di mana saya dipersilakan menempatinya bersama ibunya (Ruminem) sejak 2005 lalu," kata Sukadi.

Penghasilan dari bengkel dan tambal ban itu tidak menentu, rata-rata Rp 40.000 sampai Rp 50.000 per hari. Kalau sedang ramai, bisa mencapai Rp 100.000.

Sukadi dan Ruminem tidak pernah mengeluhkan keterbatasan kehidupan mereka. Kalau ada yang bilang manusia tidak pernah puas dengan seberapa pun penghasilan yang diperoleh, keduanya tetap bersyukur dengan hasil keringat mereka.

Dari hasil pernikahannya dengan Ruminem, Sukadi dikaruniai tiga orang anak, dua di antaranya sudah meninggal dunia.

Seorang anaknya yang masih hidup sudah berkeluarga dan hidup bersama istrinya di rumah mertua di Kecamatan Babat, Lamongan.

Seminggu sekali sang anak menengok Sukadi dan Ruminem.(Kontributor Gresik, Hamzah Arfah)

Editor: nandrson
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved