Breaking News:

Sengketa Perburuhan di Bintan

Dengar Penelantaran Pekerja, Kepala Disnaker Ngaku Geram. Dia Janjikan Ini Sebagai Reaksi!

Mendengar adanya PHK berujung penelantaran karyawan lepas di Binta, Kepala Disnaker mengaku geram. Dia berjanji berikan reaksi ini ke perusahaannya

Penulis: Aminudin | Editor:
Dengar Penelantaran Pekerja, Kepala Disnaker Ngaku Geram. Dia Janjikan Ini Sebagai Reaksi!
Tribunnewsbatam.com/Muhammad Munirul Ikhwan
Hasfarizal Hendra, Kepala Disnaker Bintan

BATAM.TRBUNNEWS.COM, BINTAN-Kasus kasus penyalahgunaan tenaga kerja di Bintan bukan hal baru.

Pada Agustus lalu, Rudi, warga asal Medan datang ke Bintan dengan alasan dijanjikan kerja bagus di salah proyek padat karya di Bintan Utara. Setuju, dia pun diberangkatkan ke Bintan, namun dengan biaya sendiri.

Dua bulan bekerja, Rudi tak mendapatkan gaji, pelaku penjanji kerja kabur, jadilah Rudi terlunta lunta di Bintan tanpa uang dan tanpa kenalan.

Dia akhirnya mengadu ke Dinas Sosial Provinsi untuk dipulangkan. Dua minggu hidup di penampungan Dinsos Provinsi, Rudi akhirnya dipulangkan ke Medan, kampung asalnya.

"Saya sampai menangis tiap malam ingin pulang. Untunglah ada penampungan Dinsos, dan saya dipulangkan,"kata dia bercerita kepada tribun belum lama ini.

Nasib terlunta dan terlantar yang hampir sama kini menghinggapi M Yasin (30), pekerja subkon PT Bintan Alumina Indonesia. Manajemen di perusahaan tersebut mendadak memberhentikannya sepihak pada Rabu (14/12/2016) pagi. Dia pun terlunta mencari tempat tinggal. Kampung halamannya jauh, di Kalimantan Barat sana.

Berbeda dengan Kasus Rudi, Yasin memilih bertahan di Kalang Batang meminta hak kerjanya dipenuhi manajemen setelah itu pulang ke kampung halaman.

Yasin datang ke Bintan karena dijanjikan bekerja bagus oleh salah satu perusahaan yang konon dekat dengan manajemen di perusahaan di Kalang Batang. Jadilah dia bekerja sebagai tenaga las di proyek dermaga reklamasi laut milik PT BAI.

Namun, pekerjaan kasar di proyek tersebut menurutnya rawan keamanan diri. Peralatan safety kurang tersedia. Ambil contoh, peralatan sarung tangan untuk keamanan las yang kurang terjamin.

Puncaknya, tangan dia terbakar lantaran sarung tangan yang dia gunakan sudah koyak koyak. Hanya meminta ganti sarung tangan, mandor proyek menghadiakannya dengan PHK.

Kasus ini menurut pekerja sekitar adalah masalah klasik dan sering terjadi. Namun sering diabaikan di lapangan. Pekerja bekerja dengan tekanan tinggi namun tidak ditunjang keamanan kerja tinggi. Selain itu, pekerja juga tidak mendapatkan jaminan sosial perlindungan kerja.

Kepala Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Bintan Hasfarizal Handra, dikonfirmsi soal itu, menyatakan geram. Dia meminta agar pekerja yang mengalami perlakuan demikian langsung melapor ke Disnaker.

"Pokoknya, begitu mendapat persoalan demikian lapor saja ke kami, tak usah takut-takut, kami akan langsung tindak tegas,"ujar Hasfarizal tegas. (*) 

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved