Sudah 20 Ribu Warga Yaman Tewas dan 20 Bulan Terakhir. Ini Sikap Pemerintah AS

Dalam perang sipil Yaman yang sudah berlangsung 20 bulan, lebih dari 10.000 orang dinyatakan tewas.

Sudah 20 Ribu Warga Yaman Tewas dan 20 Bulan Terakhir. Ini Sikap Pemerintah AS
Reuters/Khaled Abdullah
Lokasi serangan udara yang menimpa gedung tempat upacara pemakaman untuk ayah Jalal al-Ruweishan, menteri dalam negeri pemerintah Yaman yang didominasi kelompok Houthi. 

BATAM.TRIBUNNEWS.COM, WASHINGTON DC - Pemerintah AS telah memutuskan untuk menunda penjualan senjata ke Arab Saudi dan membatasi dukungan militer dalam operasi serangan udara di Yaman.

Seorang pejabat pemerintahan AS, Selasa (13/12/2016), mengatakan, keputusan itu disebabkan tingginya jumlah kematian warga sipil dalam operasi militer Yaman.

Dalam perang sipil Yaman yang sudah berlangsung 20 bulan, lebih dari 10.000 orang dinyatakan tewas.

Dari jumlah itu, PBB memperkirakan, sekitar 4.000 warga sipil tewas akibat serangan udara koalisi Arab Saudi.

Selain itu, perang saudara ini mengakibatkan negeri miskin itu kini kekurangan pasokan makanan dan mengalami krisis kemanusiaan.

"Kami sudah memastikan bahwa kerja sama keamanan AS bukan sekadar cek kosong," kata pejabat yang tak disebutkan namanya itu.

"Konsekuensinya, kami memutuskan tak akan melakukan penjualan persenjataan ke beberapa militer luar negeri," tambah dia.

Keputusan tersebut, lanjut sang pejabat, merefleksikan keprihatinan AS terhadap hasil keseluruhan kampanye serangan udara di Yaman.

Penjualan persenjataan yang ditunda itu adalah peluru kendali berpemandu buatan Raytheon.

Selain itu, AS juga mempertimbangkan untuk mengubah prioritas pelatihan perang udara di Arab Saudi ke masalah akurasi tembakan.

Keputusan pemerintah AS ini diamnbil hanya 48 jam setelah Menlu Ingris Boris Johnson mengunjungi Riyadh untuk menegaskan dukungan terhadap kampanye militer Saudi di Yaman.

Sebagai bentuk dukungan Inggris sudah memasok senjata bernilai 3,3 miliar poundsterling bagi Arab Saudi sejak operasi udara di Yaman dimulai sejak Maret lalu. (kompas.com)

Editor:
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved