Dolar AS Terus Perkasa dan Capai Level Tertinggi Dalam 14 Tahun Terakhir. Ternyata Ini Penyebabnya

Nilai tukar dollar AS menguat ke level tertinggi dalam 14 tahun terhadap beberapa mata uang utama pada Kamis (15/12/2016).

Dolar AS Terus Perkasa dan Capai Level Tertinggi Dalam 14 Tahun Terakhir. Ternyata Ini Penyebabnya
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
Petugas memperlihatkan pecahan dolar AS yang akan ditukarkan di salah satu gerai penukaran mata uang asing di Kawasan Blok M, Jakarta 

BATAM.TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Nilai tukar dollar AS menguat ke level tertinggi dalam 14 tahun terhadap beberapa mata uang utama pada Kamis (15/12/2016).

Penguatan ini terjadi setelah bank sentral AS Federal Reserve menaikkan suku bunga acuan Fed Fund Rate dan memberi sinyal tiga kali kenaikan suku bunga pada 2017.

Penguatan memang terjadi pada dollar AS pasca terpilihnya Donald Tump dalam pilpres AS, namun mata uang negara-negaraemerging markets pada saat yang sama terjerembab. Indeks dollar AS menguat 0,5 persen ke level 102,270 lalu menuju 102,620, tertinggi sejak Januari 2003.

Sementara itu, nilai tukar euro turun 0,2 persen ke level 1,0512 per dollar AS setelah sempat mencapai 1,0468 per dollar AS. Terhadap yen, dollar AS menguat ke level tertinggi dalam 10 bulan ke level 117,860 dan kemudian menguat 0,3 persen ke level 117,390 yen.

Mata uang negara-negara emerging markets pun melemah. Mata uang yuan melemah ke level terendahnya dalam delapan tahun, begitu juga dengan dollar Singapura dan won Korea Selatan, sejalan dengan kecemasan investor terkait arus modal keluar ke aset-aset berbasis dollar AS.

Dollar Singapura melemah ke level terendahnya sejak Januari 2016 lalu dan terus bergerak menuju level terendahnya dalam tujuh tahun sejak September 2009.

Arah kebijakan The Fed yang kini terlihat hawkish muncul sejalan dengan terpilihnya Trump sebagai presiden AS ke-45.

Selama masa kampanye, Trump menggaungkan janji mendorong pertumbuhan ekonomi dengan cara pemangkasan pajak, belanja, dan deregulasi.

"Proyeksi kenaikan suku bunga untuk tahun 2017 meningkat menjadi tiga kali menunjukkan bahwa The Fed memiliki faktor terhadap dampak kebijakan Trump," ujar Junichi Ishikawa, strategist valuta asing di IG Securities di Tokyo. (kompas.com, Sakina Rakhma Diah Setiawan)

Editor:
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved