Masuk Musim Angin Utara, Pemkab Bintan "Takut" Kebanjiran Limbah Minyak Hitam. Ini Alasannya!

Masuk musim angin utara, Pemkab Bintan khawatirkan limpasan limbah minyak hitam (sludge oil) ke kawasan wisata Lagoi

Masuk Musim Angin Utara, Pemkab Bintan
tribunnews batam/eko setiawan
Limbah minyak hitam di pantai Kawasan Berakit, Selasa (26/1/2015) 

BATAM.TRIBUNNEWS.COM, BINTAN - Musim angin utara yang kini dialami Bintan, Pemkab Bintan mengkhawatirkan masalah berulang yang bisa muncul lagi.

Masalah itu yakni limbah minyak hitam (sludge oil) yang selalu menghantui setiap peralihan musim. Sejauh ini, belum ada laporan, sludge oil mulai ditemukan di perairan Bintan. Namun antisipasi tetap harus dilakukan.

Sekda Bintan Raja Muhammad Akib Rachim, menyatakan, di tengah musim angin utara, ancaman munculnya limbah hitam tersebut sesuatu yang tak bisa disepelekan. "Mengancam, jelas sangat mengancam karena merugikan banyak sektor,"kata Akib, Jumat (23/12/2016)

Sebelumnya Akib juga pernah mengatakan hal ini pekan sebelumnya di acara bersih bersih pantai di Sameko, Kampung Bugis.

Khusus di beberapa area di Bintan kata dia, penanganganan ancaman limbah hitam sudah dilakukan dengan baik dan terpadu. Pengelolaannya sudah bagus, sehingga ancaman itu tidak lagi mengkhawatirkan seperti sebelum sebelumnya.

"Kalau di daerah daerah yang sudah dikelola sedemikian rupa kayak di kawasan wisata Lagoi, itu mereka sudah punya orang yang cukup untuk membersihkan itu,"kata Akib.

Namun yang menjadi masalahnya, area pinggiran pantai lain semacam di kawasan pariwisata trikora di Kecamatan Gunung Kijang. Di kawasan wisata itu, penanganan limbah hitam atau sludge oil belum terkelola semacam di area wisata Lagoi.

"Masalahnya kayak yang di daerah trikora sana itu. Itu yang sering mengganggu kenyamanan dari pada turis itu,"kata Akib.

Upaya penyisihan limbah yang terlanjur masuk ke perairan Bintan masih agak sulit. Banyak faktor yang begitu berpengaruh yang mengakibatkan hal itu. Faktor faktor itu seperti keberadaan angin, arus, dan gelombang yang mengakibatkan penanganan banyak menemui kendala di lapangan.

Bagi nelayan lokal, limbah minyak hitam memberikan banyak kerugian. Dalam jangka pendek, limbah minyak dapat merusak biota laut sebagai sumber nafkah nelayan. Ikan yang hidup di sekeliling laut bisa tercemar dan bermigrasi jauh ke perairan lain.

Beruntung sejauh ini, belum ada laporan dari masyarakat pesisir atau nelayan lokal terhadap limbah minyak hitam. Diprediksi, ancaman itu akan muncul bulan bulan antara Januari dan Februari.

Pada bulan bulan tersebut, angin yang berhembus kuat. "Biasanya bulan bulan begitu, saat angin yang bertiup kencang. Harapan kita janganlah terjadi, karena itu sangat merugikan,"kata Maulana, nelayan di Malang Rapat, Gunung Kijang. (*) 

Penulis: Aminnudin
Editor:
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved