Suap Beli Mesin Pesawat

KPK Tidak Akan Jerat Garuda Indonesia dengan Pasal Pemidanaan Korporasi

Ketua KPK Agus Rahardjo mengatakan uang suap dari Rolls Royce hanya dinikmati seorang diri oleh Emirsyah Satar, tak terkait dengan Garuda Indonesia

KPK Tidak Akan Jerat Garuda Indonesia dengan Pasal Pemidanaan Korporasi
Emirsyah Satar 

BATAM.TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk tidak akan dijerat pidana korupsi oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terkait penyidikan kasus suap pengadaan badan dan mesin pesawat airbus S.A.S dan Rolls Royce P.L.C.

Ketua KPK Agus Rahardjo mengatakan uang suap dari Rolls Royce hanya dinikmati seorang diri oleh Direktur Utama PT Garuda Indonesia 2004-2015 Emirsyah Satar.

"Ini tidak dinikmati oleh perusahaan melainkan oleh Individu," kata Agus Rahardjo di KPK, Jakarta, Kamis (19/1/2017).

Sementara itu, Wakil Ketua KPK Laode Muhammad Syarif mengatakan, aturan pemidanaan korporasi yang telah dikeluarkan Mahkamah Agung tidak bisa diterapkan, karena Garuda tidak mendapatkan keuntungan dari suap tersebut.

"Yang dapat keuntungan dari suap inikan bukan garuda melainkan keuntungan pribadi si ESA (Emirsyah Satar) ini," kata Syarif pada kesempatan yang sama.

Pada kasus tersebut KPK menetapkan dua orang tersangka.

Selain Emirsyah Satar, KPK juga menetapkan Benneficiari Connaught International Pte. Ltd Sutikno Soedarjo yang diduga sebagai perantara.

Emirsyah Satar jadi tersangka karena menerima uang dalam bentuk uang yakni 1,2 juta euro dan 180 ribu Dolar Amerika atau setara Rp 20 miliar dan barang senilai 2 juta Dollar Amerika.

Suap tersebut sehubungan total pengadaan pesawat air bus untuk Garuda Indonesia kurun waktu 2005-2014 sebanyak 50 pesawat.

Penulis: Eri Komar Sinaga

Editor: Alfian Zainal
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved