TERUNGKAP! Life Jacket Imigran Ditemukan Menggunung. Sebagian Ternyata Palsu
Diduga, para imigran yang bersusah payah menyeberang melalui Laut Mediterania menuju Eropa, tenggelam akibat jaket-jaket palsu tersebut.
BATAM.TRIBUNNEWS.COM, LESBOS - Sekitar 150 ribu jaket milik imigran dari Timur Tengah ditemukan menggunung di pantai Pulau Lesbos, Yunani
Namun, sebagian dari jaket-jaket itu ternyata palsu dan terbuat dari spons yang justru menyerap air.
Diduga, para imigran yang bersusah payah menyeberang melalui Laut Mediterania menuju Eropa, tenggelam akibat jaket-jaket palsu tersebut.
Tidak ada yang mengetahui motif pemberian jaket-jaket palsu itu karena belum ada penyelidikan lebih jauh terkait hal itu.
Yang pasti, hingga saat ini, ribuan pengungsi masih terus meninggalkan negara mereka yang terlibat konflik berkepanjangan.
Mereka menuju Lesbos menggunakan perahu, melawan hipotermia dan melawan badai di musim dingin demi kehidupan yang lebih baik.
PA, seperti dilansir DailyMail melaporkan, jaket-jaket yang menggunung itu menunjukkan bahwa masalah pengungsi ini akan semakin suram karena di antara mereka telah menjadi obyek komersil bagi sekelompok pihak yang menyeberangkan mereka ke Eropa.
Jaket-jaket palsu itu memperlihatkan bahwa mereka sebenarnya tidak ditolong, melainkan sengaja ditenggelamkan karena spons menyerap air dan bukan sebagai jaket penyelamat di lautan.
Seorang warga Inggris Eric Kempson yang bersama dengan keluarganya membantu para imigran ini mengatakan, mereka terpanggil terjun karena setiap hari pearhu-perahu imigran terus datang di depan pintu rumah mereka di Kota Eftalou, Pulau lesbos tersebut.
Para imigran itu, umumnya melompat dari perahu dan berenang menuju pulau beberapa mil.
Eric tidak bisa memastikan, berapa orang yang tenggelam di lautan akibat life jacket palsu tersebut.
Jaket-jaket itu terus terdampar ke pulau dan kini menumpuk di sekitar rumahnya.
"Sebagian dari jaket ini palsu. Kami tidak tahu berapa orang yang mati di lautan. Mungkin ribuan," katanya.
Seorang imigran Timur Tengah, Philippa (44) dan putri mereka Elleni (18) mengatakan, mereka terdampar di Lesbos namun gagal menyentuh Eropa seperti yang mereka harapkan.
Saat ini, ia terpaksa membantu relawan yang peduli dengan imigran, Project Hope, sejak tiga tahun lalu.
Saat ini, sembilan mil dari utara pulau itu dipantau 24 jam sehari oleh para relawan dan organisasi non-pemerintah (LSM).
Pulau itu menjadi transit imigran asal Timur Tengah karena jaraknya hanya sekitar 4,5 mil dari Turki.
Namun saat suhu dingin --hingga minus 5 derajat Celcius-- penyeberangan sangat sulit.
"Tidak sedikit dari imigran itu menderita hiptermia dan radang dingin sesampai di pulau," katanya.
Saat ini, jumlah pengugnsi memang rurun drastis, namun akan kembali meningkat pada musim semi mendatang, saat air laut sedikit hangat.
"Mereka naik perahu untuk menghindari perang, tetapi mereka menghadapi zona perang yang baru," kata Kempson.
Di Pulau Lesbos itu, pengungsi ditampung di sebuah bekas gudang.
Para relawan dan kepolisian setempat sudah mengalami berbagai hal yang buruk terkait imigran ini.
"Saat sebuah perahu datang, di antara kami pasti ada yang menangis, melihat mayat anak-anak, di sekitar kita," katanya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/batam/foto/bank/originals/life-jacket_20170208_002652.jpg)