Ini yang Terjadi Jika Nekat Bangun Ruli Dekat Waduk Tembesi

Daerah tangkapan air (DTA) waduk Tembesi, sudah mulai dilirik oleh warga yang hendak memanfaatkan daerah resapan air di seputaran waduk tersebut.

Ini yang Terjadi Jika Nekat Bangun Ruli Dekat Waduk Tembesi
TRIBUNBATAM/EKO SETIAWAN
Ditpam BP Batam merobohkan dan membakar bangunan ruli yang dibangun di dekat waduk Tembesi, Kamis (9/2/2017) 

BATAM.TRIBUNNEWS.COM, BATAM - Waduk Tembesi memang belum beroperasi. Namun, di daerah tangkapan air (DTA) waduk Tembesi, sudah mulai dilirik oleh warga yang hendak memanfaatkan daerah resapan air di seputaran waduk tersebut.

Hal itu seperti yang didapati oleh patroli pengamanan DTA Ditpam di Dam Tembesi, Kamis (9/2/2017) pagi.

Dari hasil patroli rutin tersebut, petugas menemukan adanya rumah liar yang telah berdiri di sana.

"Dari hasil patroli, petugas menemukan sebuah ruli dan satu kerangka ruli. Ada juga kebun yang sudah dibuka lahannya seluas dua hektar. Itu semua langsung ditertibkan oleh petugas. Rulinya sudah dirobohkan dan kayunya dibakar supaya tidak bisa digunakan lagi," ujar Direktur Humas BP Batam, Purnomo Andiantono.

Selanjutnya, pihak Ditpam BP Batam pun akan berkoordinasi dengan Polresta Barelang terkait sanksi bagi oknum yang membangun ruli dan membuka lahan di sana. Menurut Andiantono, ruli yang ditemukan di sana bisa dikatakan masih baru.

"Itu masih baru, kayu untuk rangka rumahnya saja masih bersih sekali. Makanya langsung kita bersihkan. Walaupun secara jumlah, masih sangat kecil. Kami tidak mau kecolongan, nanti semakin banyak ruli di sana. Kami akan patroli terus supaya tidak ada lagi yang membangun ruli di situ, termasuk juga di dam-dam lain, seperti waduk yang ada di relang," ucapnya.

‎Ia menyebutkan, untuk waduk Tembesi belum dapat dipergunakan karena kadar garam pada air di waduk masih tinggi. Walaupun BP Batam berharap waduk mampu digunakan dalam waktu dekat.

"Diflushing dulu. Harapan kita sih tahun ini atau tahun depan, tergantung apakah sudah tawar airnya atau belum. Kalau waduknya kan sudah selesai, cuma airnya kan seharusnya nggak boleh asin. Dulu di Dam Duriangkang saja, hampir tiga tahun itu membersihkan air lautnya supaya keluar. Kalau dam tembesi ini baru tahun kedua," tuturnya.

Andiantono mengatakan cepat tidaknya waduk dapat digunakan tergantung dari curah hujan yang turun di Batam juga.

"Kalau air hujannya lebih banyak tahun ini, dan terus mengisi waduk sampai air jadi tawar, mungkin bisa dipakai tahun ini. ‎Jadi tergantung curah hujannya juga," kata dia.(*)‎

Penulis: Anne Maria
Editor: Tri Indaryani
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved