Breaking News:

Syahbandar Anambas Wanti-wanti Kapal Berangkat, Dampak Cuaca Ekstrem di Laut Harga Ikan Meroket

Syahbandar wanti-wanti soal keberangkatan kapal terkait cuaca ekstrem di laut. Ini penjelasannya

Penulis: Tyan | Editor:
ANTARA/BUDI CANDRA SETYA
Ilustrasi 

BATAM.TRIBUNNEWS.COM, ANAMBAS - Kondisi laut yang ekstrem, belakangan menjadi perhatian serius Syahbandar di Tarempa. Darlis, Pelaksana Harian Syahbandar di Tarempa mengatakan, cuaca laut menjadi pertimbangan serius pihaknya dalam memberikan izin berangkat kapal ke luar Anambas.

"Kapal ukuran kecil kami tidak berani keluarkan izin. ‎Untuk kapal kargo, kami berikan izin selama memiliki tonase yang sesuai dengan spesifikasi, termasuk dengan bobot muatannya," ujarnya Senin (13/2/2017).

Pihaknya mencontohkan Kapal Motor (KM) Sari Kumala Indah diberikan izin berangkat untuk bertolak ke Tanjungpinang yang akan ‎membawa sekitar 600 fiber berisi ikan dan muatan lainnya. Ini dilakukan setelah melihat bobot kapal yang mencapai 279 Gross Ton (GT), sehingga memungkinkan melakukan aktivitas pelayaran.

"‎Mengenai kondisi cuaca ini, kami terus berkoordinasi dengan BMKG. Ketinggian ombak saat ini antara empat sampai enam meter hingga 14 Februari 2017 mendatang," bebernya.

Kondisi cuaca laut yang terbilang ekstrem ini pun, mulai berdampak pada hasil tangkapan nelayan di laut. Beberapa nelayan lebih memilih untuk tidak melaut akibat kondisi laut yang dinilai tidak bersahabat. Minimnya nelayan yang melaut pun, tak pelak membuat harga ikan segar Anambas melambung tinggi.

"Harga ikan perlahan mengalami kenaikan. Seperti ikan Tongkol dari harga biasanya Rp 6 sampai 7 ribu, kini tembus Rp 11 ribu per kilogramnya. ‎Begitu pula dengan ikan Tenggiri ukuran besar yang harganya kini melambung menjadi Rp 40 ribu, sementara untuk ikan Tenggiri ukurang kecil mencapai Rp 25 ribu," ujar Asmirwan, Sekretaris Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kabupaten Kepulauan Anambas.

‎Harga ikan yang melambung ini pun, belum lagi ditambah dengan sulitnya melakukan pengiriman ikan keluar Anambas, karena kapal kargo yang biasa digunakan tidak dapat berlayar karena kondisi laut yang ekstrem. Beruntung, hal ini langsung teratasi dengan diangkut menggunakan kapal kargo besar milik salahsatu pengusaha di Anambas.

"‎Kami mengimbau kepada nelayan yang melaut untuk tetap waspada dan berhati-hati. Terlebih, dengan kejadian nelayan asal Siantan Timur yang sempat dikabarkan hilang kabar namun sudah ditemukan. Kondisi laut seperti ini memang banyak ikan makan, namun resiko yang dihadapi nelayan juga tergolong besar," tutupnya. (*)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved