Tak Terima Dimutasi, Keluarga Ini Tutup Pagar Sekolah dengan Bambu

Sekolah itu disegel oleh Nur Ari karena tidak menerima dimutasi berdasarkan keputusan Bupati Takalar tertanggal 14 Februari 2017

Tak Terima Dimutasi, Keluarga Ini Tutup Pagar Sekolah dengan Bambu
TRIBUN TIMUR/RENI KAMARUDDIN
Keluarga guru SD Negeri 95 Campagaya, Kecamatan Galesong Utara, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan, Selasa (21/2/2017), memblokir gerbang sekolah dengan bambu lantaran kecewa terhadap surat keputusan mutasi yang diteken Bupati Takalar pada 14 Februari 2017. TRIBUN TIMUR/RENI KAMARUDDIN 

BATAM.TRIBUNNEWS.COM, PATTALASSANG - Keluarga guru SD Negeri 95 Campagaya, Kecamatan Galesong Utara, Kabupaten Takalar, memblokir gerbang sekolah dengan bambu.

Penyegelan sekolah dilakukan ahli waris pemilik tanah yang juga guru yang mengajar di sekolah tersebut bernama Nur Ati Daeng Mammeng.

Sekolah itu disegel oleh Nur Ari karena tidak menerima dimutasi berdasarkan keputusan Bupati Takalar tertanggal 14 Februari 2017.

"Yang menutup sekolah tersebut adalah ahli waris bernama Idris bersama masyarakat yang tidak setuju dengan keputusan Bupati Takalar karena telah memutasi Nur Ati Daeng Mammeng dan kepala sekolahnya," ujar seorang guru kepada Tribun Timur, Selasa (21/2/2017).

Pihak ahli waris menduga mutasi tersebut terkait dukungan keluarganya di Pilkada Takalar.

Daeng Mammeng yang mendukung pasangan Syamsari Kitta-Ahmad Se're (SK-HD) dimutasi ke SD Negeri Mangulabbe, Kecamatan Mappakasunggu, tanpa alasan yang jelas.

Sementara Kepala SDN 95 Campagaya Syahriani ikut dimutasi ke SD di Pulau Tanakeke karena mendukung pasangan SK-HD.

Akibat penyegelan sekolah tersebut, guru-guru yang mengajar di SD Negeri 95 Campagaya tidak bisa masuk ke sekolah, dan 260 murid hanya belajar di Masjid Nur Muhammad Camapagaya.(*)

Editor: nandrson
Sumber: Tribun Timur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved