Kunjungan Raja Arab Saudi

Penerima Cinderamata Raja Salman Diimbau Serahkan ke KPK Jika Tak Ingin Dipidana KPK

Raja Arab Saudi memberikan sejumlah cinderamata pada para pejabat di Indonesia saat berkunjung ke Indonesia. Nilainya ditaksir lebih dari Rp 5 miliar.

Penerima Cinderamata Raja Salman Diimbau Serahkan ke KPK Jika Tak Ingin Dipidana KPK
TRIBUNNEWS.COM/Istimewa
Duta Besar Arab Saudi untuk Indonesia, Osama bin Mohammed Abdullah Al Shuaibi (kiri), memberikan cenderamata pedang, ke Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian (kanan), saat kunjungan ke Mabes Polri, Sabtu (4/3/2017). Pedang tersebut berasal dari Kerajaan Arab Saudi untuk institusi Polri. 

Atas penyerahan dan laporan dari pejabat negara termasuk Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian, KPK sangat mengapresiasi karena telah memberikan contoh yang baik.

"Kami apresiasi para pihak yang melaporkan dalam konteks pemberian kunjungan negara karena pihak pemberi memberikan untuk maksud menjalin hubungan baik antar negara. Lalu dari perspektif penerima memang memiliki kewajiban untuk melapor," ungkap Giri.

Febri sebelumnya mengatakan bahwa barang-barang gratifikasi tersebut jika ditaksir nilainya miliaran rupiah.

"Taksiran nilai awal lebih dari Rp 5 miliar," ujar Febri.

Berbeda dengan Febri, Giri mengatakan belum bisa menaksir harga barang gratifikasi tersebut.

"Mohon maaf kami tidak bisa pastikan berapa jika ditaksir dalam rupiah. Karena harus dicek dulu ini asli emas atau tidak. Kami butuh waktu 30 hari kerja," tambah Giri.

Gubernur Bali
Selain Kapolri, pejabat yang menyerahkan gratifikasi adalah Gubernur Bali, I Made Mangku Pastika masuk dalam jajaran pejabat pemerintah yang melaporkan dan memberikan barang gratifikasi pemberian dari Raja Salman bin Abdulaziz Al Saud saat berlibur ke Bali.

Cinderamata yang diterima Mangku Pastika yakni satu set aksesoris yang berisi satu jam rolex sky dweller, satu jam meja rolex desk clock 8235, satu pasang manset emas merk chopard, satu ballpoint emas merk chopard dan satu buah tasbih.

Lalu siapa tiga menteri yang menerima Gratifikasi? Identitas mereka tidak diungkap oleh KPK karena kedua pelapor keberatan jika namanya diungkap.

"KPK akomodasi apabila pelapor beralasan keberatan kalau namanya disebut. Berbeda dengan Kapolri yang memang menyerahkan langsung pedang berlapis emas ke KPK," kata Giri Supradiono.

Halaman
1234
Editor: Tri Indaryani
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved