Produksi Es Terganggu Karena Ada Pengalihan Operasi dari Energi BBM Solar ke Listrik
Terkait harga, meski telah beralih menggunakan energi listrik, UPT masih menerapkan harga yang lama
BATAM.TRIBUNNEWS.COM, ANAMBAS - Kepala UPTD Pelabuhan Perikanan Antang Iskandar Ahmad mengakui terjatuhi sedikit gangguan dalam produksi pabrik es yang dioperasikan Unit Pelaksana Teknis (UPT) Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kepri.
Iskandar Ahmad mengatakan, kondisi ini terjadi karena ada proses pemasangan daya listrik untuk pengoperasian pabrik, dari sebelumnya menggunakan mesin berbahan bakar minyak solar.
"Alhamdulillah sudah selesai. Hari Rabu (22/3/2017) kami sudah bisa kembali menjual es," ujarnya, Kamis (23/3/2017).
Iskandar mengatakan, untuk tahap awal ini, produksi es bisa memakan waktu hingga 40 jam.
Baca: Jumlah Produksi Pabris Es Menurun, Pemkab Anambas Surati Pemprov
Kondisi ini terjadi karena mesin yang sudah lama tidak beroperasi memerlukan waktu untuk mengubah suhu menjadi minus 18 derajat Celcius.
Lama waktu proses es ini normalnya memakan waktu 24 jam saat mesin sudah beroperasi normal.
Terkait harga, meski telah beralih menggunakan energi listrik, UPT masih menerapkan harga yang lama.
Harga es dijual Rp 500 ribu per ton. Harga ini mengacu pada Peraturan Daerah (Perda).(*)
* Baca berita terkait di harian TRIBUN BATAM edisi Jumat, 24 Maret 2017
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/batam/foto/bank/originals/ilustrasi-es-balok_20170323_192033.jpg)