Andi Narogong Simpan Uang Rp 2,6 Miliar Dalam Kantong Keresek

KPK menyita uang 200 ribu dollar AS (sekitar Rp 2,6 miliar) saat menangkap Andi Agustinus atau Andi Narogong. Uang tersebut berada dalam keresek.

Andi Narogong Simpan Uang Rp 2,6 Miliar Dalam Kantong Keresek
Tribunnews/Herudin
Andi Narogong tiba di Gedung KPK, Kamis (23/3/2017) malam. 

BATAM.TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menyita uang 200 ribu dollar AS (sekitar Rp 2,6 miliar) saat menangkap Andi Agustinus atau Andi Narogong. Uang tersebut berada dalam tas plastik keresek.

"Saat menangkap itu, penyidik menemukan tas keresek berisi uang USD 200 ribu," kata juru bicara KPK, Febri Diansyah, di kantor KPK, Jl Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Jumat (24/3/2017).

Andi ditangkap bersama adik dan satu orang lainnya pada Kamis (23/3/2017) siang sekitar pukul 11.00 WIB. Saat itu Andi tengah berada di sebuah rumah makan di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, Setelah itu, ketiganya dibawa untuk menyaksikan proses penggeledahan di tiga lokasi.

Lokasi pertama adalah rumah Andi di Central Park Baverly Hills C10 Kota Wisata Cibubur, selanjutnya di rumah dua adik Andi. "Kami juga mengamankan bukti elektronik dan sejumlah dokumen. Saat ini KPK masih mendalami keterkaitan bukti-bukti tersebut," kata Febri.

Setelah menjalani pemeriksaan di kantor KPK sejak Kamis malam, pihak komisi antirasuah tersebut menahan pengatur tender e-KTP itu ke rutan KPK pada Jumat sekitar pukul 13.30 WIB. Rutan KPK itu dibangun khusus bagi pelaku tindak pidana korupsi. Ada lima ruangan dirancang menjadi kamar tahanan.

Tahanan di rutan KPK diprioritaskan bagi orang yang mau membongkar kasus korupsi. Ruangan itu terletak di basement gedung KPK di Jakarta Selatan. Ruangan kamar tahanan berkisar sekitar 3 X 3,5 meter. Ruangan khusus menjenguk terletak di depan pintu basement gedung KPK.

Saat ini, gedung KPK di Jalan Rasuna Said Kavling C1 itu sudah tak dipergunakan. Gedung itu diperuntukan untuk kegiatan pembelajaran yang disebut "Akademi Antikorupsi". Namun, Rutan masih tetap dipergunakan dan ditempati para tahanan.

Salah satunya, hakim konstitusi Patrialis Akbar, yang menjadi tersangka kasus dugaan suap uji materi Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2014 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan di Mahkamah Konstitusi.

Tak sembarang orang dapat masuk ke gedung itu. Hanya karyawan dan pimpinan KPK saja yang masih diizinkan berada di sana. Sementara di luar itu tak diperkenankan masuk. Di pintu depan dan pintu belakang terdapat pos satpam, di mana dua sampai tiga satpam berjaga di sana.

Wakil Ketua KPK, Basaria Panjaitan, mengatakan penahanan Andi Narogong dilakukan karena yang bersangkutan merupakan saksi kunci di dalam kasus dugaan korupsi dari anggaran total Rp 5,9 triliun. Selama penahanan, penyidik KPK akan memeriksa Andi secara intensif.

"Penyidik memang harus memeriksa beliau (Andi Narogong), karena dari hasil mengikuti persidangan kemarin, beliau banyak mengetahui hal ini (kasus dugaan korupsi proyek pengadaan KTP)," kata Basaria.

Selain itu, kata dia, penyidik KPK juga mempertimbangkan alasan-alasan lainnya. Misalnya, menghindari agar Andi tak melarikan diri dan menghilangkan barang bukti. "Penyidik masih bekerja keras melakukan telaah untuk menemukan bukti-bukti dan petunjuk-petunjuk lainnya," tambah Basaria. (*)

Editor: Tri Indaryani
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved